Dear sobat semua...
Pagi ini aku
melakukan perjalanan dari Jogja ke Solo, naik kereta Madiun Ekspress. Keretanya
lumayan nyaman dan ada charge buat laptopku, so aku manfaatkan buat ngelanjutin
cerita perjalananku di UK.
Kali ini aku
ingin cerita ajang “blusukan” ku bersama Robb dan Sarah di London.
Minggu pagi, 12
Januari 2014. Aku terbangun lebih awal dari biasanya, walaupun malam sebelumnya
tidur cukup larut. Aku geser tirai jendela, kuintip dari kamar hotel, ternyata masih
gelap gulita. Aku lihat jam di kamar, ternyata masih jam 5.30. Hampir aku lupa,
di UK saat ini kan sedang winter, matahari baru nongol sekitar jam 7.30. Aku
coba buka kaca jendela, wuzzzz, udara dingin langsung menerpaku, seakan-akan
buka pintu kulkas di rumah. Oh iya, pagi ini aku ada agenda bersama Rob dan
Sarah. Kebetulan agenda meetingku bersama mereka masih besok senin, jadi hari
minggu ini aku manfaatin buat mengekslore tanah Ratu Elizabeth, dan aku pilih
London, kota dimana Big Ben berada. Sebuah jam raksasa yang dijadikan patokan
waktu seluruh dunia. Robb dan Sarah bersedia menemaniku ke London dari
Southampton.
|
Taman Chilworth Manor Hotel |
|
Bersama Rob and Sarah di depan Modern Art Gallery |
Jam 08.00 pagi
aku keluar kamar untuk sarapan di restoran hotel. Sesampainya restoran, aku
cari meja untuk duduk. Aku dengar, peserta lain, rekannku Xiao dari Cina juga
sudah menginap di hotel. Aku cari-cari dia, maklum belum pernah ketemu
langsung. Dan akhirnya ketemu juga, dan kami sarapan bareng. Xiao (29) cukup
familiar dengan UK, sejak umur 15 tahun dia pindah dari China ke UK untuk
sekolah. Sementara itu, ibunya memegang paspor UK dan tinggal di London,
sementara ayahnya dari China. Kami ngobrol banyak hal pagi itu, mulai dari
cerita pekerjaan, kompleksitas masing-masing negara kami dan tentang keluarga.
Dia sangat ramah dan mengenalkan banyak hal yang aku butuhkan selama di UK.
|
Menuju London |
Selepas sarapan,
Robb menghubungiku kalau dia sudah menuju ke hotel. Akupun siap-siap, tak lupa
kubawa kamera untuk jepret obyek-obyek menarik di London. Jam 9.00 kamipun
berangkat, rencana awalnya kami mau naik bus/kereta dari Southampton ke London,
tetapi dengan kebaikan hati Robb dia bawa mobil BMW terbarunya untuk
mengantarkarku jalan-jalan. Sementara Sarah sudah prepare beberapa scraft and gloves untuk ku. Sepertinya
di khawatir kalau aku bakalan kedinginan di London.
Perjalanan dari
Southamton ke London dengan mobil pribadi sekitar 1,5 jam. Jalanan yang lebar
dan arus kendaraan yang rapi menjadikan perjalanan kami menyenangkan. Tidak ada
kemacetan, dan sepanjang jalan dari Southampton ke London tak satupun suara
klakson terdengar. Jadi sedikit membandingkan dengan tanah air tercinta, hmm.
Selama perjalanan, Robb dan Sarah mengenalkan banyak lokasi di sepanjang jalan,
bercerita dan mengeksplore tentang aktivitas kami masing-masing.
|
Foreground - The Sanctury. middle - Westminster Abbey. background - Big Ben, The London Eye and government buildings |
|
Suasana jalanan kota London - White Hall |
|
Suasana jalanan kota London |
|
Suasana jalanan kota London - White Hall |
|
Westminster Abbey, London |
|
Westminster Abbey |
Akhirnya, kamipun
sampai juga di jantung kota London. Big Ben terlihat begitu besar dari yang aku
kira sebelumnya. Wow... that’s amazing.
Kota London begitu tertata rapi, bangunan-bangun masa lampau masih tegak
berdiri dan terpilahara. Memasuki kota London aku terbayang seperti masuk
sebuah wilayah kerajaan Inggris di masa lalu.
Kamipun mencari
tempat parkir mobil. Parkir mobil cukup mahal di pusat kota London, per jam nya
bisa mencapai 3-5£. Selepas mendapatkan parkir mobil yang tepat,
kamipun beranjak memulai perjalanan kami. Destinasi pertama adalah London Eye.
London Eye merupakan kincir raksasan. Kita bisa naik diatasnya, dan akan
terlihat seluruh sudut kota London. Luar biasa. Lokasi inipun sering sekali
dijadikan lokasi syuting film-film terkenal. Di sekitarnya merupakan sebuh
taman yang asri, dimana kita bisa bermain dengan puluhan burung dara yang
terbang bebas tapi jinak. Jika kita punya makanan burung, kita bisa mengajak
mereka semua bermain, hehe.
|
Standing infront London Eye |
|
London Eye |
|
London Eye Park |
Selanjutnya,
langkah kaki kami menuju Sungai Thames. Mereka mengajaku untuk jalan menyusuri
tepi Sungai Thames, sekaligus menuju coffee shop yang terletak di bawah salah
satu jembatan yang membentang di atas Sungai Thames. Kami makan siang dan
sekaligus menghangatkan badan dari dinginnya London, aku perkirakan suhunya sekitar
6° C. Lumayan, di coffee shop ada heater untuk menghangatkan badan. Dan
terkait menu makan siang, Sarah sepertinya sudah paham kalau aku tidak boleh
makan makanan yang mengandung pork dan
minuman beralkohol. Mereka baik, mau menghormatiku untuk tidak mengkonsumsi
keduanya bersamaku. Kamipun makan kue dan minum coffee saja. Perut sudah
kenyang, tenaga pun kembali full untuk meneruskan perjalanan kami.
|
Menyusui tepi Sungai Thames |
|
Sepanjang tepi Sungai Thames |
|
Bazar Buku di bawah salah satu jembatan Sungai Thames |
Obyek selanjutnya
adalah Modern Art Gallery. Bangunannya unik sekali, di dalamnya terdapat
berbagai macam hasil karya seni dari berbagai bangsa. Dan juga terdapat lokasi
untuk pentas karya seni yang sering sekali dikunjungi oleh para turis yang
singgah di London. Ada juga ruangan yang sangat luas di dalamnya yang merupakan
hall bawah tanah, hingga ketika melihat unjungnya, manusia terlihat lebih kecil
karena begitu luasnya.
|
Modern Art Gallery |
Kami ingin
melihat sisi lain Sungai thames, kamipun menyebranginya melalui jembatan Millennium Brigde. Kalau teman-teman ingin di salah satu film Harry Potter,
pastinya tau akan jembatan ini. Salah satu adegan film tersebut diambil di
lokasi ini. Jembatannya cantik sekali, arsitekturnya terlhat kuat dan menambah
kesan cantik Sungai Thames. Dari atas jembatan aku bisa melihat sepanjang
aliran sungai Thames, terlihat pula jembatan lainnya seperti Tower Bridge yang
terkenal itu.
|
Standing on Millennium Bridge |
|
Millennium Bridge |
|
Sungai Thames dengan Tower Bridge sebagai backgroundnya
|
Aku melihat jam
tangannku, ternyata sudah jam 12.00, waktunya untuk sholat dzuhur. Kalau di
hotel enak, bisa sholat di dalam kamar. Karena ini di London, agak susah
mencari tempat sholat. Robb dan Sarah membantuku untuk mencarikan tempat
sholat, atau setidaknya ruangan yang representatif. Tapi sesuai dugaanku, itu
tidak akan mudah. Setelah berkeliling di beberapa tempat, kami tidak menemukan,
termasuk bertanya di tourist centre
pun nihil hasilnya. Sementara itu, aku tidak boleh sembarangan sholat atau
beribadah karena semuanya ada aturannya. Akhirnya ketemu juga sebuah tempat
yang dapat digunakan untuk tempat beribadah, dan terus terang agak asing
memang. Ya, aku sholat di St Paulus Cathedral. Aku dipersilakan menggunakan pray room. Tempatnya lumayan sepi dan
hening.
|
Di depan St Paulus Cathedral
|
|
Menuju St Paulus Cathedral |
|
St Paulus Cathedral |
Tak puas berhenti
disitu, kamipun berpetulang menyusuri jalanan jantung kota London. Robb mencari
jalan kecil memasuki sebuh kawasan perumahan elit, ternyata dia mau mengajaku
mengunjungi Dr. Johnsons House yang merupakan tempat tinggal penulis pertama
kamus bahasa Inggris, Samuel Johnson ada abad ke-18. Alamat lengkap rumahnya adalah 17 Gough
Square, London EC4A 3DE.
|
Di depan Dr. Johnson's House |
Dan melewati The Old Bailey Court of Law, Victoria and
Albert Monument, King’s College London, Somerset House dan Lyceum Theatre. Dan
ternyata hari sudah menjelan sore, waktunya untuk makan malam. Robb punya
alternatif bagus, kami menyambangi sebuah restoran di lantai 2 komplek National
Gallery. Tempatnya ramai, dan kaca besar disampingnya menunjukan pemandangan
indah luar biasa. Terlihat dari kejauhan Big Ben dan bangunan-bangunan
monumental lainnya.
|
The Old Bailey Court of Law |
|
The Old Bailey Court of Law |
|
Victoria and Albert Museum |
|
Somerset House |
|
Somerset House |
|
Somerset House |
|
Lyceum Theatre yang lagi nampilkan The Lion Kng |
Selepas dinner kami menuju halaman depan National
Gallery. Situasinya begitu ramai dan didepannya tepat terdapat Trafalgar Square
dengan ikon berupa patung dua ekor singa raksasanya. Kami berusaha naik di atas
patung untuk mengambil gambar, waduh, naikknya susah karena licin. Berkah
bahu-membahu akhirnya berhasil juga aku duduk di atas punggung patung singa. Berlanjut ke
destinasi selanjutnya, kompleks Buckingham Palace. Setelah melewati Admiralty
Arch yang merupakan pintu gerbang utama menuju kompleks Buckingham Palace. Jam
tanganku menunjukan pukul 5 malam, Robb dan Sarah mengajakku ke untuk melihat
Horse Guards Parade, yakni prosesi pergantian pejaga istana yang identik dengan
pasukan berkudanya. Beruntung sekali tiba di Buckingham Palace tepat waktu
pergantian Horse Guards, keren sekali.
|
Dinner di komplek National Gallery |
|
National Gallery |
|
Di depan National Gallery |
|
Trafalgar Square |
Langkah kaki kami
beranjak menuju St James’s Park, mengikuti The Diana Princess of Wales Memorial
Walk yang merupakan jejak langkah mendiang Puteri Diana, mengantarkan kami
menuju halaman depan Buckingham Palace. Lampu-lampu yang mengitarinya
menjadikan istana Ratu Elizabeth terlihat megah dan indah. Akhirnya bisa sampai
di lokasi yang menjadi tempat tinggal bersejarah dari pemimpin kerajaan yang berpengaruh di dunia.
Lokasi sekitar istana begitu bersih, nyaman dan tentunya aman bagi para pejalan
kaki.
|
The Diana Princess of Wales Memorial Walk |
|
Horse Guard Parade |
|
Horse Guard Office |
|
Menuju Buckingham Palace |
|
Buckingham Palace |
|
Buckingham Palace |
|
Di depan Buckingham Palace |
|
Suasana malam di Buckingham Palace |
Dan suasana sudah
semakin malam dengan dinginnya udara sekitar, kami meneruskan petualangan ke pusat
jantung London, Big Ben. Berbeda dari awal kedatangan kami siang tadi, ketika
malam Big Ben terlihat begitu aggunnya. Lampu-lampu disetipa jengkah sisinya
menjadikannya tampak hidup di tengah ramainya kota London. Warna lampunya
kekuningan dan suara dentingnya cukup kencang menjadi pengingat yang
mempertegas bahwa inilah sentral GMT yang waktunya dijadikan patokan seluruh
dunia. Ketertarikanku dengan Big Ben jauh ketika aku masih SMP. Guru bahasa
Inggrisku menggambarkan bagaimana Big Ben lewat buku ajar, tetapi kini aku
berdiri tepat di sampinya. Alhamdulillah, impian adalah awal dari sebuah
penggerak hati dan pikiran untuk menjadikannya happened suatu saat nanti. Dan
aku benar-benar membuktikanya.
|
Big Ben at night |
|
Berpose di atas Sungai Thames |
Sementara itu,
aku teringat titipan teman-teman untuk mebawakan souvenir yang identik dengan
London. Kebetulan di samping Big Ben ada penjual souvenir, dan begitu tahu aku
dari Indonesia, waduh....ternyata di bisa bahasa Indonesia. “Mas ayo beli,
murah, murah, murah”. Aku tanya ke dia, kok dia bisa bahasa Indonesia? Katanya
banyak orang Indonesia yang ke London, dan setiap pulang pasti membeli
oleh-oleh dari tempat dia. Hmmm, ternyat emang terkenal yang kita, heehe.
Kami sudah puas
berjalan-jalan, sementara hujan gerimis mulai turun, aku memandangi indahnya
lampu London Eye dari kejauhan sementara Sarah memanggilku untuk menuju mobil. Oh iya, dalam perjalan kami mampir juga ke Rumah Dinas Perdana Menteri Inggris di Downing Street. Jam 7 malam kami meninggalkan London menuju Southamton. Selama perjalanan
pulang, Robb begitu antusias menyimak ulasan pertandingan sore itu dari klub
idolanya Manchester City. Ya, dia pecinta Manchester City dan aku pecinta
Machester United. Bola memang memangkas perbedaan budaya, bangsa dan bahasa.
Kamipun larut dalam obrolan mengenai tim kebanggaan kami masing-masing. Tak
terasa kami sudah sampai hotel, begitu masuk hotel aku lihat jam dinding sudah
menunjukan pukul 9 malam. Alhamdulillah, petualangan hari ini di London
memberikan banyak pengalaman dan pelajaran berharga. I hope can visit London
again guys.
|
Rumah Dinas Perdana Menteri Inggris |