Salam BUMI, Pasti LESTARI

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?
(Asy Syu'araa' :7)
Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Desember 2017

Jogjaku Sayang, Sawahku Hilang

Dua Bidadariku bersama Mbah Warto
Bagi orang yang pernah tinggal di Jogja, mungkin waktu kuliah, sekolah, tugas kerja, pasti sebagian besar sepakat kalau Jogja itu tempat yang nyaman buat tinggal. Kenyamanan akan lingkungan, fasilitas juga penduduknya. Bahkan ada tagline bagi orang yang lama tidak datang ke Jogja: “Jogja itu ngangenin Dab!” Bagi kamu yang pernah tinggal di Jogja, lokasi mana yang paling ngangenin? Hayo, coba ingat-ingat. Apakah tempat kampus kamu dulu, tempat kos, tempat nongkrong atau lokasi main bareng temen-temenmu? Pastinya, tempat itu membawa kesan dalam, dan membawa rindu melayang ke masa-masa itu. Cie..ciee !

Jogja dengan segala kenyamanannya menarik banyak orang untuk tetap tinggal di sana, meskipun sudah tidak lagi menjalani kuliah atau tugas kerja. Contoh simpelnya ya aku dan keluargaku. Tujuh tahun lalu, setelah menikah dan kemudian lulus dari Kampus Bulaksumur, kami mencoba peruntungan di Ibu Kota. Dasarnya “wong ndeso”, nggak betah tinggal di kota dengan kompleksitas yang sangat tinggi, kamipun memutuskan untuk pulang kembali ke Jogja setelah 3 bulan merantau. Padahal sebenarnya kami bukan orang Jogja asli lho.

Ya, sebagian mengatakan kami bukan pejuang tahan banting, tapi kami melihat dari sisi lain. Hidup tidak sekedar mencari pekerjaan dan ekonomi yang mapan, toh rezeki ada di mana-mana. Kami hanya berpikir, ingin membangun keluarga di tempat yang homey dan dekat dengan keluarga. Ternyata hal semacam itu tidak hanya terjadi dengan kami, banyak teman-teman yang juga mager (malas gerak) dari Jogja. Kondisi tersebut di satu sisi ternyata membawa dampak bagi Jogja, salah satunya di sector property. Kebutuhan tempat tinggal bagi para pendatang semakin besar. Selain itu juga banyak orang berinvestasi di Jogja untuk membangun kos-kosan, rumah kontrakan, bahkan apartemen. Sebegitu banyaknya property yang ditawarkan laris manis di pasaran. Tak ayal, harga tanah di Jogja meroket luar bisa dari waktu ke waktu.

Beberapa tahun yang lalu berusaha mencari sebidang tanah yang strategis, tidak jauh dari kota untuk kami bangun rumah sudah cukup susah. Mencari tanah dengan harga di bawah Rp 500.000/meter sudah susah, dapatnya pasti di pinggiran. Kalau mau yang dekat kota, yang harus merogoh kocek lebih, paling tidak 1-2 juta/m nya. Apalagi sekarang. Ingat sekali beberapa tahun lalu tempat dimana kami saat ini berteduh (Condongcatur, Sleman) lokasinya sudah di pojok, bersebelahan dengan sawah. Tapi hanya dalam hitungan beberapa tahun, sawah yang indah itu, sudah hilang semua, berubah menjadi rumah padat penduduk.  

Kalau menurut info dari REI (Real Estate Indonesia) DIY 2017, kenaikan harga tanah di Jogja mencapai 20% per tahunnya. Kenaikan ini yang dimanfaatkan oleh para pengembang untuk melebarkan sayap bisnis propertinya. Sebagai dampaknya, tanah-tanah pekarangan semakin terbatas, alhasil banyak dilakukan konversi tanah sawah menjadi pekarangan untuk kemudian dibangun perumahan. Sebagai contoh, Kabupaten Sleman dulunya terkenal sebagai lumbung padi di Jogja, tetapi sekarang sudah banyak sawah-sawah terkikis habis. Sebenarnya Pemda Sleman sudah mengendalikan pengeringan sawah ke pekarang melalui pengurusan Izin Peruntukan Penggunaan Tanah (IPPT), tetapi masih belum maksimal. 

Praktik di lapangan, para pemilik sawah dihadapkan dengan intensitas penawaran yang tinggi dan beragam dari para pengembang untuk menjual tanah sawahnya. Di dekat rumah ku misalnya, semakin sedikit ditemui adanya sawah. Kalau toh ada tanah berupa sawah, biasanya berupa bengkok atau tanah kas desa, yang sangat dibatasi penggunaannya untuk usaha di luar pertanian. 




Berdasarkan data dari BPS DIY, pada tahun 2012 luas sawah di DIY sebesar 56.364 Ha. Jumlah ini berkurang sebesar 1.072 Ha menjadi 55.292 Ha di tahun 2016. Apabila di rata-rata, 204.4 Ha sawah di Jogja hilang setiap tahunnya. Konversi terbesar terjadi di Kabupaten Sleman sebesar 801 Ha selama 5 tahun terakhir, atau sekitar 160.2 Ha per tahunnya. 

Mengutip apa yang disampaikan Subejo PhD, Dosen Fakultas Pertanian UGM di dalam artikel yang dimuat di Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 8 Maret 2017, hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi laju alh fungsi lahan pertanian adalah dengan mempercepat proses penyusunan Perda Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di semua kabupaten. Dengan ditetapkannya Perda LP2B yang terintegrasi dalam RTRW dapat segera ditetapkan kawasan pertanian yang dilindungi. Lahan pertanian yang dilindungi tentunya didasarkan pada situasi dan lokasi kawasan, aksesibilitas, kesuburan, irigasi, ketersediaan infrastruktur pertanian dan lain sebagainya.

Setelah penetapan kawasan lahan pertanian dilindungi, dapat segera diikuti dengan kebijakan dan program-program yang dirancang dan diimplementasikan oleh organisasi perangkat daerah (OPD) teknis. Sehingga secara terintegrasi dapat memberikan perlindungan pada lahan pertanian yang telah ditetapkan.

Pengendalian alih fungsi lahan pertanian dan perlindungan lahan pertanian harus mencakup semua aspek mulai hulu sampai dengan hilir. Program yang dapat dikembangkan antara lain pembangunan infrastruktur pertanian (irigasi, jalan usaha tani, gudang dan sebagainya). Kemudian penyediaan input dan sarana-prasarana usaha tani yang mudah diakses petani, dukungan pembiayaan usaha tani. Hal yang tidak kalah penting adalah jaminan pasar atas produk pangan.

Diluar itu semua, beberapa hari lalu, sebagaimana kegiatan rutin di pagi hari sebelum anak-anak berangkat sekolah, kami sempatkan main ke Taman Kuliner Condongcatur. Lokasi besutan Pemda DIY seluas 1,5 Ha yang menggabungkan konsep taman dengan sarana hiburan dan olah raga, terdiri dari 40 buah resto dan 80 buah kios. 

Disana kami bertemu Mbah Warto (bukan nama sebenarnya). Petani yang masih bertahan dari gempuran penawaran para pemburu tanah. Sawah Mbah Warto berlokasi di sisi Timur Tamkul berjumlah 3 petak, hasil warisan dari orang tuanya. Sekarang dia tinggal mengolah 2 petak karena yang 1 petak sudah dia jual untuk membangunkan rumah anaknya. 

Mbah Warto menceritakan, bagaimana hampir setiap minggu rumahnya dikunjungi para pemburu tanah, menawar untuk membeli sawahnya. Bertahun-tahun kondisi seperti ini berjalan. Hingga kini dia masih mantap untuk tetap mempertahankan sawah dan profesinya sebagai petani. 

Akan tetapi, Mbah Warto juga tidak tahu apakah anak-anaknya besok masih akan mempertahankan tanah sawahnya. Dia menuturkan, sawah di sebelahnya adalah milik kakaknya, yang setelah meninggal direncanakan dijual dan dibagi oleh anak-anaknya. 

Kisah Mbah Warto adalah gambaran bagaimana semakin beratnya warga lokal mempertahankan tanah sawahnya. Sebuah harapan terselip, agar sawah Mbah Warto tetap bertahan dan memberikan kesempatan bagi anak-anakku untuk bermain lumpur kembali, menanam padi dan setidaknya belajar bagaimana menjadi seorang petani. 

Sumber:
1. http://yogyakarta.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/73
2. http://krjogja.com/web/news/read/26594/Quo_Vadis_Alih_Fungsi_Lahan_Pertanian

Rabu, 29 November 2017

Lomba Infaq Pak Hadi

Pak Hadi
Sebuah notifikasi adanya pesan baru masuk di layar HP. Ternyata dari salah satu group WA yang aku ikuti. Seseorang kawan posting mengenai kabar duka.

“Inalillahi wainnailaihiroojiuun kapundhut wonten ngarsanipun Allah swt. BP. H. Suhadi Dimyati Ba. Pada hari selasa 28 Nov jam23.30 di Pedak Bumirejo smg husnul khotimah aamiin. Pemakaman akan dilaksanakan pukul 09.00”

Sejenak aku ingat-ingat nama itu. Pesan baru kemudian masuk, sebuah foto sebagai jawaban akan pertanyaan yang sama dari salah satu anggota group lainnya. Oh, aku ingat sekarang. Kami dulu di SMP memanggilnya Pak Hadi. Beliau adalah guru agama Islam sejak kelas I hingga kelas III.

Selasa, 07 November 2017

Ingatlah, Sang Malaikat Punya Batas Waktu

Kehadiran akan orang yang kita rindukan adalah sebuah anugerah. Ibuku hadir dalam mimpi, membangunkanku pukul 03.00 pagi ini. Sejenak aku duduk, mengingat mimpi menghampiriku. Tersenyum, merasakan hadirnya, tapi juga berbalut sedih karena ternyata hanya mimpi. Setidaknya bisa menjadi penawaran rindu di kalbu.

Selasa, 07 Februari 2017

Ngambeg Berhutang

Seorang adek angkatan di kampus yang akan ijab qabul bertanya kepadaku beberapa waktu lalu. “Mas, menurut jenengan  apa yang musti diperhatiin ketika mulai berkeluarga, terutama masalah keuangan dan kebutuhan hidup?”. Aku spontan  menjawab, “Usahakan sebisa mungkin jangan berhutang”. “Lho, apa hubungannya dengan berhutang, kok penting?”, tanyanya lebih lanjut.

Jumat, 03 Februari 2017

Rimba Beradab


Oh Tuhan
Kau ciptakan kami serasi melengkapi
Hadirkan cinta sarat makna
Jauh dari keruhnya prasangka
Jauh dari kejamnya dusta
Jauh dari amisnya dengki

Oh Tuhan
Kau pertemukan kami di tanah ini
Kembalikan hakikat arti sahabat
Dekat bebasnya nafas
Dekat hijaunya tajuk
Dekat basahnya embun


Oh Tuhan
Betapa malu ku hadapi ciptaanMu
Hukum rimbanya lebih beradab
Batang tinggi kuat mengayomi
Terbang bebas tiada menindas
Kicauan indah tanpa pongah
Merayap senyap penuh hormat
Menetes jernih sirnakan perih

Oh Tuhan
Kapan lagi Kau sandingkan kami
Haruskah kulepas kedamaian ini
Kembali umbar busuknya cacian
Kembali pelototi angkuhnya perpecahan
Kembali tampar ringkihnya perbedaan

Oh Tuhan
Ragaku pulang menggenggam rindu
Mengalir haru tertiup bayu
Menatap asa teriring doa
Manusia sejatinya berakhlaq surga

Anton Prasojo, TN Gn. Halimun Salak 1-3 Feb 2017

Jumat, 27 Januari 2017

Budayakan Olahraga Ya Guys


Badan sehat, hidup nikmat. Memiliki badan yang sehat adalah harapan semua orang. Berbekal kesehatan setiap orang mampu  menjalankan aktivitas sehari-hari dengan penuh semangat dan kemudahaan. Bisa kita bayangkan apa yang akan hilang dari hidup ketika kesehatan tidak lagi bersama  kita.

Kesehatan sebagai bagian pemberian dari Tuhan sudah sepantasnya kita jaga dengan sebaik-baiknya. Salah satu cara untuk menjaganya adalah dengan melakukan olahraga fisik. Olahraga fisik banyak macamnya, kita tinggal pilih mana yang asyik untuk dijalankan.

Keasyikan olahraga  akan terasa ketika kita  melakukannya secara bersama-sama dengan  teman-teman.  Tidak hanya keringat yang keluar dari  badan kita, melainkan persaudaraan  dan  stress yang akan hilang.  

Berolahrga bersama teman-teman membuat kita tidak bosan dalam melakukannya. Aku sendiri lebih  memilih olahraga  bersama-sama daripada lonely. Setidaknya ada 2 jenis olahraga yang secara rutin aku lakukan, Futsal dan Tenis lapangan. Keduanya aku lakukan bersama  teman-teman kantor.





Futsal biasanya dilakukan setiap 2 minggu sekali, sementara tenis lapangan dilakukan 1 minggu sekali. Keduanya menjadi pilihan yang asyik bagiku untuk menjaga  kesehatan agar badan  ini  tetap  bisa  sehat, bugar dan  bersemengat  untuk  menjalani aktivitasa  padat  sehari-hari. Yuk, kita jaga terus budaya hidup sehat dengan olahraga ya Guys!

Rabu, 18 Januari 2017

Eh, Kamu Naik Gaji Nggak ?

“Eh, dah tahun baru,  wah, naik  gaji  dong?”
“Tahun  baru,  siapa yang naik jabatan ya?”

Itulah beberapa kalimat pertanyaan yang sering aku  dengar menjadi buah bibir di  awal tahun. Ya, awal tahun kerap  dijadikan momentum untuk  perubahan baik di instansi negeri maupun swasta. Sebuah  langkah untuk menata organisasi dan memberikan penyesuaian insentif bagi para pegawainya. Awal tahunpun disambut dengan suka cita oleh sebagian besar orang, berharap ada implikasi positif dalam jenjang karir dan kenaikan penghasilan.

Sabtu, 24 Oktober 2015

Manusia Berlabel Si Kaya dan Si Miskin


Minggu sore pertengahan Oktober, di sela-sela waktu membantu istri menjaga “lapak ” produk jilbab kaos andalan kami (www.jilbamazaya.com) di pamerah produk UKM dan Koperasi se-Indonesia di Jogja Expo Centre, aku dan anak-anak mengunjungi panti asuhan La Tahzan. Panti asuhan ini adalah salah satu dari 4 panti asuhan binaan gerakan amal kolektif Taman Karunia (www.tamankarunia.org), dimana saat ini Taman Karunia sudah berusia hampir 4 tahun.
Panti asuhan yang berlokasi di Bantul, Yogyakarta ini membina sekitar 30 anak yatim, piatu dan dhuafa yang kesemuanya bersekolah setingkat MAN. Panti asuhan ini tidak hanya tempat singgah, melainkan juga pesantren yang membekali santrinya dengan berbagi pengetahuan dan hafalan Al-Quran.
Taman Karunia hadir dipanti asuhan tersebut untuk memberikan dukungan biaya pendidikan bagi anak-anak yang bersekolah di Man Lab UIN sekaligus memberikan training pengembangan diri yang dilaksanakan setiap bulannya. Training tersebut kami harapkan mampu memberikan bekal pengetahuan dan wawasan bagi adek-adek kami di masa yang akan datang.
Pada kesempatan diskusi bulan ini, ada pertanyaan menarik dari salah satu santri. “Siapa sebenarnya Si Kaya dan Si Miskin?”.
Jawaban singkatku akan pertanyaan ini dapat ditemukan pada bagian akhir tulisan ini, tetapi sebelumnya mari coba kita baca uraian perenungannya.
Kalau pertanyaan yang sama ditujukan kepada kita, lantas seperti apa jawabannya. Bisa jadi, mayoritas dari kita akan menjawab Si Kaya adalah orang yang mempunyai mobil mewah, rumah megah, simpanan tabungan berlimpah, jabatan tinggi, dan sederet tampilan kemewahan lainnya. Dan sebaliknya, Si Miskin adalah orang dengan kondisi sebaliknya, rumah reot, mobil tak ada, jadi jongos dimana-mana, makan senin dan kamis, galian hutang dalam mencekam dan setumpuk gambaran penderitaan hidup di dunia.
Sebenarnya, dari manakah label Si Kaya dan Si Miskin berasal? Ada satu hal utama yang melatarbelakangi manusia dikatakan kaya atau miskin, yakni, penilaian orang lain. Orang memberikan penilaian berdasarkan kemewahan yang tampak dan melekat pada dirinya. Dan apa yang terjadi saat ini, dimana banyak orang berlomba untuk meraih predikat sebagai orang kaya, bisa jadi hanya sebatas mengejar penilaian orang atas dirinya, bukan menjadikan kekayaan sebagai jembatan untuk menolong sesama dan mendekatkan diri kepadaNya.
Lantas, sebenarnya apa yang terjadi dengan orang yang berlomba-lomba menimbun kekayaan sementara hatinya tidak pernah puas? Itu semua karena hilangnya rasa syukur terhadap apa yang diberikan oleh Allah SWT. Hal yang dirasakannya hanya kekurangan, kekurangan dan kekurangan.
Pada akhirnya dia akan tetap melakukan berbagai cara untuk memuaskan diri dengan tambahan kekayaannya, tetapi jangan dikira dengan semakin kaya pasti akan semakin bahagia. Sebuah cerita sedih datang kepada aku ketika ada sepasang suami istri begitu bahagia ketika awal-awal janji suci diucapkan dengan segala keterbatasannya. Akan tetapi, begitu kesuksesan digapai dan harta tercukupi, justru kebahagiannya terasa hilang sirna seutuhnya. Ya, sebagian orang bisa dengan mudah melewati kemiskinan, tetapi sulit lulus dari ujian keberlimpahan.
Di sisi lain, sebagian dari kita pasti pernah mendengar orang berceloteh, “ Enak yang jadi orang kaya, bisa ini, bisa itu dengan mudah!” Eits, jangan salah kita tidak pernah tahu apakah kekayaan yang diraihnya apakah dirihoi oleh Allah SWT atau tidak. Indikatornya sederhana, apakah kekayaan tersebut membawa keberkahan dalam hidup atau sebaliknya menjerumuskan.
Kita perlu mengingat kembali, ada dua cara Allah memberikan rizki harta kepada manusia. Pertama diberikannya secara baik dengan jalan dari hasil keringat yang menetes untuk pekerjaan-pekerjaan yang lurus. Dan yang kedua, diberikan dengan dilempar ke mukanya sebagai “upah” dan membuatnya semakin tenggelam dalam keberlimpahan yang semu.
Dan jawaban singkatku mengenai siapa Si Kaya dan Si Miskin merujuk pada Hadits Riwayat Bukhori No. 6081 dan Muslim No. 1051, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan/kecukupan (dalam) jiwa (hati).” Ada ungkapan lain juga yang menyebutkan bahwa Si Kaya adalah orang yang sibuk membagi-bagikan hartanya untuk menolong orang lain, sementara Si Miskin adalah orang yang sibuk mengumpulkan untuk dirinya sendiri.
 
Perjalanan udara Yogyakarta-Surabaya
22 Oktober 2015
 

Sabtu, 10 Oktober 2015

Dahlan Iskan Tak Berhenti "Berulah"

Selepas shalat shubuh di masjid dan pamitan dengan istri beserta anak-anak, akupun bergegas menuju bandara Adisucipto. Hari ini ada pekerjaan untuk menilai penerapan Wood Control System di salah satu industri perkayuan terbesar di Gresik. Di ruang tunggu bandara, tampak dari kejauhan sosok yang tidak asing. Dia terlihat sedang asik bercakap-cakap dengan orang yang duduk di sampingnya. Tampak senyum lebar dan keramahan yang dibalut setelan kemeja biru muda yang serasi dengan celana panjang biru tuanya.  Dan tidak ketinggalan kacamata serta sepatu kets hitam dengan sol putih yang identik dengannya.

Tak lama kemudian, terdengarlah panggilan boarding untuk penerbangan tujuan Surabaya. Aku lihat dia mulai berdiri dan beranjak dari tempat duduknya menuju Gate 1. Ternyata kami satu rute penerbangan ke Surabaya. Aku berdiri tepat di depan gate untuk mengucapkan salam dan membuka obrolan, “Apa kesibukannya selepas tidak menjadi pejabat Pak? “Menanam kaliandra merah Mas”, balasnya dengan penuh semangat. Tanaman kaliandra merah terdengar tidak asing bagiku dan akupun memberikan beberapa komentar singkat mengenai tanaman tersebut.

Selepas melewati gate, aku bertanya singkat, “Bapak duduk di kursi mana?”. “1 C Mas, padahal saya lebih suka duduk di belakang” , ungkapnya. “Kalau saya 9 C Pak”, balasku. “Ok, kita masuk yang terakhir saja ke pesawat dan duduk bareng di bangku belakang”, ajaknya. Akupun berpikir, mungkin Bapak ini ingin mengobrol lebih lanjut mengenai kaliandra merah.

Kami pun akhirnya duduk bersama dan obrolan renyah semakin mengalir ramah apalagi kalau bukan mengenai kaliandra merah. Bagi yang belum familiar dengan tanaman ini, kaliandra merah  (Calliandra calothyrsus) merupakan bagian dari familia Leguminosea  dan sub familia Mimosaceae yang berbentuk perdu (semak) dengan ciri batang berkayu dan bertajuk lebat. Tanaman ini banyak ditemukan di Jawa dan dimanfaatkan daunnya sebagai hijauan pakan ternak.

Dan temanku ngobrol pagi itu, Pak Dahlan, begitu aku memanggilnya, saat in sedang banyak menanam kaliandra merah di beberapa lokasi terpencil di Indonesia. Lokasi-lokasi tersebut antara lain, Kabupaten Kepulauan Meranti Riau, Ambalut Kaltim, Tambora NTB, Enggano Bengkulu, Bolang Mangodow Sulawesi, Obi Maluku, Singkep Riau, dan beberapa lokasi lainnya yang total luasnya mencapai ribuan hektar.

Ketertarikannya menanam kaliandra merah didasari semangat untuk mengalirkan listrik di daerah-daerah terpencil dengan berbasis kemandirian masyarakat lokal. Masyarakat diajak bergerak bersama untuk menciptakan sebuah perubahan melalui kegiatan Sosiopreneur Demi Indonesia (SDI) yang digagas oleh Pak Dahlan awal tahun 2015. “Semangat saya sederhana, saya ingin melihat daerah-daerah terpencil di Indonesia bisa menikmati listrik seperti layaknya kita yang ada di Jawa. Mereka tidak perlu menggantungkan sumber bahan baku fosil untuk menghidupkan genset di kampung-kampung. Dan harapannya kegiatan sosial yang dikelola secara entrepreneur mampu menjadi salah satu solusinya”, ungkap mantan Dirut PLN.

Kecintaannya pada dunia energi dan kelistrikan yang ia perlihatkan ketika menjadi orang nomor satu di PLN, kini pun tampak pada usahanya membangun kemandirian energi listrik berbasis biomassa dari tanaman kaliandra merah. Tanaman ini sengaja dipilih oleh Pak Dahlan karena memiliki kandungan energi yang cukup tinggi. Berdasarkan penelitian yang ada, energi yang dihasilkan tanaman kaliandara merah mencapai 4,700 Kkal/kg dan arangnya mampu menghasilkan energi 7,200 Kkal/kg. Energi tersebut tidak kalah dengan hasil pembakaran batu bara yang berkisar 3,700-5,000 Kkal/kg. Lebih lanjut, menurutnya kaliandra merah seluas 200 Ha akan mampu menghasilkan energi listrik sebesar 2 MW.

Sebagai tanaman energi, kaliandra merah sudah bisa dipanen mulai umur satu tahun selepas penanaman. Dan akan tetap bisa dipanen hingga usia 20 tahun tanpa menanamnya kembali.
Selain karena hasil energinya, tanaman kaliandra sengaja dipilih oleh Mantan Mantan Menteri BUMN tersebut karena memiliki sifat yang mudah tumbuh di berbagai tempat baik dataran rendah maupun tinggi. Kemapuan akarnya yang bagus dalam mengikat Nitrogen menjadikannya tanaman dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi meskipun dengan kondisi tanah miskin unsur hara, seperti lahan bekas pertambangan atau lahan marginal lainnya.

Tanaman ini juga tidak memerlukan perlakuan yang khusus dan sulit baik pada saat pembenihan, penanaman dan pemeliharannya. Lebih lanjut, tanaman berbunga merah indah ini juga memiliki  potensi ekonomi yang menjanjikan bagi masyarakat. Bunga kaliandra merah merupakan salah satu sumber nektar favorit lebah madu. Masyarakat yang menanam kaliandra merah juga dapat beternak lebah madu. Hasilnya berupa madu kalindra, biasa kita menyebutnya, harganya sudah cukup tinggi di pasaran. Saat ini harga madu kaliandra bisa mencapai Rp. 120,000 per botolnya nya. Dengan demikian, akan tercipta suatu multiple benefit dari menanam kaliandra merah. Selain tujuan utamanya sebagai kayu energi, keberadaannya akan menyuburkan tanah dan memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat dari manisnya madu kaliandra.

Usaha yang saat ini digeluti Dahlan Iskan juga tidak semua berjalan semulus yang direncanakan. Memang setiap pekerjaan besar, pasti ada tantangan besar yang menghadang. Dia sempat mengalami kegagalan dalam penanaman Kaliandra Merah di Tambora karena beberapa kendala, tetapi hal itu tidak membuatnya patah arang dan berhenti untuk terus mencoba. Gagasan besar akan terwujudnya kemandirian energi bersumber dari kaliandra merah dilakukannya secara mandiri. Ketika saya tanyakan, mengapa tidak mengajak para investor besar untuk bekerjasama? "Sebenarnya sudah banyak para investor yang tertarik bekerjsama untuk menjadikannya bisnis profit yang berskala besar. Tetapi saya ingin ini tetap menjadi sosiopreneur dan saya ingin membuktikan terlebih dahulu bahwa usaha mandiri ini benar-benar berhasil" tegasnya.

Karena aku pernah memiliki sedikit pengalaman terkait kayu energi, aku sampaikan bahwa ada jenis tanaman selain kaliandra merah yang bisa digunakan untuk sumber energi. Tanaman ini banyak tumbuh di kawasan lereng Gunung Merapi dan termasuk salah satu jenis tanaman perintis. Ketika erupsi Gunung Merapi 2010, tanaman jenis ini sempat habis terbakar, tetapi selang beberapa bulan, datangnya musim hujan memberikan berkah pada tanaman ini untuk muncul kembali dan tumbuh dengan lebih subur. Masyarakat di sekitar Gunung Merapi banyak memanfaatkannya sebagai bahan baku arang. Kualitas arangnya cukup baik sehingga banyak pengusahan gudeg di Jogja memanfaaatkannya sebagai bahan bakar. Pak Dahlan terlihat tertarik dengan jenis tanaman ini. Aku sampaikan, “Silahkan kapan Bapak ada waktu ke Jogja lagi saya antar melihat tanamannya dan proses pembuatan arangnya”, ajakku. "Ok Mas Anton, no HP nya berapa ya biar saya simpan", balasnya sambil mengeluarkan Hp dari tas di bawah kursi pesawat.

Tidak lama kemudian terdengan suara pilot yang menginformasikan bahwa pesawat bersiap untuk mendarat. Kamipun turun dari pesawat dan tetap masih asyik mengobrol. Pak Dahlan tampak sangat welcome dan bersikap hangat terhadap semua orang yang ditemuinya. Bahkan ada kejadian unik yang aku amati ketika kami naik bus transit selepas turun dari pesawat menuju terminal. Ada salah satu penumpang yang berdiri di dekat Pak Dahlan. Karena tidak mendapatkan pegangan ketika bus sudah mulai berjalan, dengan ramah Pak Dahlan menawarkan orang tersebut untuk berpegangan pada tangannya. Dan akhirnya mulai dari bus berjalan hingga berhenti di terminal kedatangan, orang tersebut terus menggandeng tangan Pak Dahlan.
Kiriman foto dari Pak Dahlan Iskan

Tidak hanya itu, beberapa kali para penumpang dan petugas bandara juga mengajaknya untuk berfoto bersama. Dan sepanjang perjalanan higga pintu keluar banyak orang yang menyapanya dengan senyum lebar dan rasa hormat. Kamipun bersiap untuk berpisah, sambil berjabat tangan aku sampaikan, "Pak Dahlan, inilah perbedaan antara pejabat dan orang besar. Seorang pejabat mungkin tidak lagi dihormati dan disanjung selepas jabatannya hilang. Akan tetapi orang besar seperti Bapak, akan selamanya dihormati!”

Dan akhirnya kamipun berpisah, tidak lama kemudian HP ku berbunyi, ada SMS masuk dan ternyata dari Pak Dahlan. Berselang sebentar, masuk juga kiriman gambar di WA dari Pak Dahlan berupa foto selfie bersama hasil jepretan kameranya.
SMS dari Pak Dahlan Iskan
 
Itulah Pak Dahlan Iskan, yang tidak pernah berhenti untuk “berulah” demi cita-citanya untuk menghadirkan cahaya penghapus kegelapan.

 Surabaya, 8 Oktober 2015.

Sabtu, 03 Oktober 2015

Membungkus Warisan Melalui Tulisan


Manusia yang hidup saat ini tidak lepas dari warisan pengetahuan, pengalaman dan ide dari generasi manusia sebelumnya. Warisan tersebut salah satunya berbentuk karya tulisan yang dengan detail menggambarkan kehidupan manusia generasi sebelumnya. Ya, karya berbentuk tulisan dinilai cukup langgeng untuk membungkus warisan tersebut. Berbagai tulisan dari penulis ternama lintas generasi berabad-abad lalu masih bisa kita nikmati karena kekuatan penyampaiannya melalui tulisan.

Generasi manusia saat ini pun aku kira harus sebanyak mungkin meninggalkan warisan berbentuk tulisan agar generasi setelah kita bisa banyak belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Tugas menjaga warisan pengalaman dan pengetahuan bukanlah menjadi tugas para penulis ternama semata. Kita pun sebagai orang yang sama sekali tidak berprofesi sebagai penulis hendaknya juga melakukan hal yang sama. Menuliskan setiap lembar pengalaman hidup dan bisa menjadi pelajaran atau setidaknya informasi  yang berguna.

Hanya saja, setiap orang mungkin lebih mudah berbicara daripada menulis. Dan itupun terjadi denganku. Aku lebih suka berbicara dan berdiskusi dengan keluarga maupun teman untuk berbagai topik, mulai dari topic yang seringan kerupuk hingga seberat batu. Tetapi kembali lagi, butuh niatan yang kuat untuk mengubah hasil obrolan tersebut menjadi sebuah tulisan. Apalagi, aku bukan tipe orang yang terbiasa menggoreskan setiap kegundahan hati di buku “diary” seperti sebagian teman-teman lainnya. Alhasil dibutuhkan sebuah niat dan konsistensi untuk mewujudkannya.

Sebuah media “blog” yang aku pilih untuk menampung pengalaman dan ide aku ternyata sudah lama tak tersentuh. Dan untungnya tidak ada “expired”dalam blogspot ketika lama tidak dibuka. Dan hari ini aku menyempatkan, dan sebaikanya memang menyempatkan, buka menunggu waktu luang untuk kembali menulis.

Aku menyempatkan membawa si orange (panggilan laptop kesayanganku) ketika mengantar anak-anak cewekku (Chayara (4 tahun) dan Aisy (2,5 tahun) sekolah di TK dekat rumah. Kebetulan TK nya bersampingan dengan masjid, jadi aku bisa memanfaatkannya untuk menulis tulisan ini. Hari Sabtu dan Minggu adalah “father days” untuk aku dan anak-anak. Selama dua hari dalam seminggu, anak-anak berada dalam kekuasaanku; mulai dari urusan mandi, nyebokin, memasak sarapan hingga mengantar sekolah, ngajakin main, ngelonin bobok siang sudah menjadi tugasku. Aku tidak ingin kehilangan momen berharga, melihat tumbuh kembang anakku karena terlalu sibuk di luar rumah. Dan anakku pun terlihat begitu senang dan menikmati “father days” kami.

Oh… terdengar dari dalam ruang kelas anakku lantunan doa menjelang pulang dan akhirnya aku cukupkan sementara tulisan ini. Dan semoga bisa berlanjut secara konsisten dengan tulisan-tulisan selanjutnya. See you all…. J

 

Jumat, 21 Februari 2014

Journey to UK (United Kingdom) #Part 3 : LONDON


Dear sobat semua...
Pagi ini aku melakukan perjalanan dari Jogja ke Solo, naik kereta Madiun Ekspress. Keretanya lumayan nyaman dan ada charge buat laptopku, so aku manfaatkan buat ngelanjutin cerita perjalananku di UK.

Kali ini aku ingin cerita ajang “blusukan” ku bersama Robb dan Sarah di London.

Minggu pagi, 12 Januari 2014. Aku terbangun lebih awal dari biasanya, walaupun malam sebelumnya tidur cukup larut. Aku geser tirai jendela, kuintip dari kamar hotel, ternyata masih gelap gulita. Aku lihat jam di kamar, ternyata masih jam 5.30. Hampir aku lupa, di UK saat ini kan sedang winter, matahari baru nongol sekitar jam 7.30. Aku coba buka kaca jendela, wuzzzz, udara dingin langsung menerpaku, seakan-akan buka pintu kulkas di rumah. Oh iya, pagi ini aku ada agenda bersama Rob dan Sarah. Kebetulan agenda meetingku bersama mereka masih besok senin, jadi hari minggu ini aku manfaatin buat mengekslore tanah Ratu Elizabeth, dan aku pilih London, kota dimana Big Ben berada. Sebuah jam raksasa yang dijadikan patokan waktu seluruh dunia. Robb dan Sarah bersedia menemaniku ke London dari Southampton.


Taman Chilworth Manor Hotel


Bersama Rob and Sarah di depan Modern Art Gallery

Jam 08.00 pagi aku keluar kamar untuk sarapan di restoran hotel. Sesampainya restoran, aku cari meja untuk duduk. Aku dengar, peserta lain, rekannku Xiao dari Cina juga sudah menginap di hotel. Aku cari-cari dia, maklum belum pernah ketemu langsung. Dan akhirnya ketemu juga, dan kami sarapan bareng. Xiao (29) cukup familiar dengan UK, sejak umur 15 tahun dia pindah dari China ke UK untuk sekolah. Sementara itu, ibunya memegang paspor UK dan tinggal di London, sementara ayahnya dari China. Kami ngobrol banyak hal pagi itu, mulai dari cerita pekerjaan, kompleksitas masing-masing negara kami dan tentang keluarga. Dia sangat ramah dan mengenalkan banyak hal yang aku butuhkan selama di UK.


Menuju London

Selepas sarapan, Robb menghubungiku kalau dia sudah menuju ke hotel. Akupun siap-siap, tak lupa kubawa kamera untuk jepret obyek-obyek menarik di London. Jam 9.00 kamipun berangkat, rencana awalnya kami mau naik bus/kereta dari Southampton ke London, tetapi dengan kebaikan hati Robb dia bawa mobil BMW terbarunya untuk mengantarkarku jalan-jalan. Sementara Sarah sudah prepare beberapa scraft and gloves untuk ku. Sepertinya di khawatir kalau aku bakalan kedinginan di London.
Perjalanan dari Southamton ke London dengan mobil pribadi sekitar 1,5 jam. Jalanan yang lebar dan arus kendaraan yang rapi menjadikan perjalanan kami menyenangkan. Tidak ada kemacetan, dan sepanjang jalan dari Southampton ke London tak satupun suara klakson terdengar. Jadi sedikit membandingkan dengan tanah air tercinta, hmm. Selama perjalanan, Robb dan Sarah mengenalkan banyak lokasi di sepanjang jalan, bercerita dan mengeksplore tentang aktivitas kami masing-masing.


Foreground - The Sanctury. middle - Westminster Abbey. background - Big Ben, The London Eye and government buildings

Suasana jalanan kota London - White Hall

Suasana jalanan kota London

Suasana jalanan kota London - White Hall

Westminster Abbey, London

Westminster Abbey

Akhirnya, kamipun sampai juga di jantung kota London. Big Ben terlihat begitu besar dari yang aku kira sebelumnya. Wow... that’s  amazing. Kota London begitu tertata rapi, bangunan-bangun masa lampau masih tegak berdiri dan terpilahara. Memasuki kota London aku terbayang seperti masuk sebuah wilayah kerajaan Inggris di masa lalu.

Kamipun mencari tempat parkir mobil. Parkir mobil cukup mahal di pusat kota London, per jam nya bisa mencapai 3-5£. Selepas mendapatkan parkir mobil yang tepat, kamipun beranjak memulai perjalanan kami. Destinasi pertama adalah London Eye. London Eye merupakan kincir raksasan. Kita bisa naik diatasnya, dan akan terlihat seluruh sudut kota London. Luar biasa. Lokasi inipun sering sekali dijadikan lokasi syuting film-film terkenal. Di sekitarnya merupakan sebuh taman yang asri, dimana kita bisa bermain dengan puluhan burung dara yang terbang bebas tapi jinak. Jika kita punya makanan burung, kita bisa mengajak mereka semua bermain, hehe.


Standing infront London Eye


London Eye


London Eye Park

Selanjutnya, langkah kaki kami menuju Sungai Thames. Mereka mengajaku untuk jalan menyusuri tepi Sungai Thames, sekaligus menuju coffee shop yang terletak di bawah salah satu jembatan yang membentang di atas Sungai Thames. Kami makan siang dan sekaligus menghangatkan badan dari dinginnya London, aku perkirakan suhunya sekitar 6° C. Lumayan, di coffee shop ada heater untuk menghangatkan badan. Dan terkait menu makan siang, Sarah sepertinya sudah paham kalau aku tidak boleh makan makanan yang mengandung pork dan minuman beralkohol. Mereka baik, mau menghormatiku untuk tidak mengkonsumsi keduanya bersamaku. Kamipun makan kue dan minum coffee saja. Perut sudah kenyang, tenaga pun kembali full untuk meneruskan perjalanan kami.


Menyusui tepi Sungai Thames

Sepanjang tepi Sungai Thames


Bazar Buku di bawah salah satu jembatan Sungai Thames

Obyek selanjutnya adalah Modern Art Gallery. Bangunannya unik sekali, di dalamnya terdapat berbagai macam hasil karya seni dari berbagai bangsa. Dan juga terdapat lokasi untuk pentas karya seni yang sering sekali dikunjungi oleh para turis yang singgah di London. Ada juga ruangan yang sangat luas di dalamnya yang merupakan hall bawah tanah, hingga ketika melihat unjungnya, manusia terlihat lebih kecil karena begitu luasnya.

Modern Art Gallery

Kami ingin melihat sisi lain Sungai thames, kamipun menyebranginya melalui jembatan Millennium Brigde. Kalau teman-teman ingin di salah satu film Harry Potter, pastinya tau akan jembatan ini. Salah satu adegan film tersebut diambil di lokasi ini. Jembatannya cantik sekali, arsitekturnya terlhat kuat dan menambah kesan cantik Sungai Thames. Dari atas jembatan aku bisa melihat sepanjang aliran sungai Thames, terlihat pula jembatan lainnya seperti Tower Bridge yang terkenal itu.


Standing on Millennium Bridge
Millennium Bridge
Sungai Thames dengan Tower Bridge sebagai backgroundnya

Aku melihat jam tangannku, ternyata sudah jam 12.00, waktunya untuk sholat dzuhur. Kalau di hotel enak, bisa sholat di dalam kamar. Karena ini di London, agak susah mencari tempat sholat. Robb dan Sarah membantuku untuk mencarikan tempat sholat, atau setidaknya ruangan yang representatif. Tapi sesuai dugaanku, itu tidak akan mudah. Setelah berkeliling di beberapa tempat, kami tidak menemukan, termasuk bertanya di tourist centre pun nihil hasilnya. Sementara itu, aku tidak boleh sembarangan sholat atau beribadah karena semuanya ada aturannya. Akhirnya ketemu juga sebuah tempat yang dapat digunakan untuk tempat beribadah, dan terus terang agak asing memang. Ya, aku sholat di St Paulus Cathedral. Aku dipersilakan menggunakan pray room. Tempatnya lumayan sepi dan hening.


Di depan St Paulus Cathedral

Menuju St Paulus Cathedral






St Paulus Cathedral

Tak puas berhenti disitu, kamipun berpetulang menyusuri jalanan jantung kota London. Robb mencari jalan kecil memasuki sebuh kawasan perumahan elit, ternyata dia mau mengajaku mengunjungi Dr. Johnsons House yang merupakan tempat tinggal penulis pertama kamus bahasa Inggris, Samuel Johnson ada abad ke-18.  Alamat lengkap rumahnya adalah 17 Gough Square, London EC4A 3DE.


Di depan Dr. Johnson's House

Dan melewati  The Old Bailey Court of Law, Victoria and Albert Monument, King’s College London, Somerset House dan Lyceum Theatre. Dan ternyata hari sudah menjelan sore, waktunya untuk makan malam. Robb punya alternatif bagus, kami menyambangi sebuah restoran di lantai 2 komplek National Gallery. Tempatnya ramai, dan kaca besar disampingnya menunjukan pemandangan indah luar biasa. Terlihat dari kejauhan Big Ben dan bangunan-bangunan monumental lainnya.


The Old Bailey Court of Law


The Old Bailey Court of Law
Victoria and Albert Museum


Somerset House
 

      
Somerset House


Somerset House

Lyceum Theatre yang lagi nampilkan The Lion Kng


Selepas dinner kami menuju halaman depan National Gallery. Situasinya begitu ramai dan didepannya tepat terdapat Trafalgar Square dengan ikon berupa patung dua ekor singa raksasanya. Kami berusaha naik di atas patung untuk mengambil gambar, waduh, naikknya susah karena licin. Berkah bahu-membahu akhirnya berhasil juga aku duduk di atas punggung patung singa. Berlanjut ke destinasi selanjutnya, kompleks Buckingham Palace. Setelah melewati Admiralty Arch yang merupakan pintu gerbang utama menuju kompleks Buckingham Palace. Jam tanganku menunjukan pukul 5 malam, Robb dan Sarah mengajakku ke untuk melihat Horse Guards Parade, yakni prosesi pergantian pejaga istana yang identik dengan pasukan berkudanya. Beruntung sekali tiba di Buckingham Palace tepat waktu pergantian Horse Guards, keren sekali.


Dinner di komplek National Gallery


National Gallery


Di depan National Gallery 


Trafalgar Square


Langkah kaki kami beranjak menuju St James’s Park, mengikuti The Diana Princess of Wales Memorial Walk yang merupakan jejak langkah mendiang Puteri Diana, mengantarkan kami menuju halaman depan Buckingham Palace. Lampu-lampu yang mengitarinya menjadikan istana Ratu Elizabeth terlihat megah dan indah. Akhirnya bisa sampai di lokasi yang menjadi tempat tinggal bersejarah dari  pemimpin kerajaan yang berpengaruh di dunia. Lokasi sekitar istana begitu bersih, nyaman dan tentunya aman bagi para pejalan kaki.

The Diana Princess of Wales Memorial Walk 


Horse Guard Parade


Horse Guard Office


Menuju Buckingham Palace

Buckingham Palace


Buckingham Palace


Di depan Buckingham Palace
                                   

Suasana malam di Buckingham Palace
                                      

Dan suasana sudah semakin malam dengan dinginnya udara sekitar, kami meneruskan petualangan ke pusat jantung London, Big Ben. Berbeda dari awal kedatangan kami siang tadi, ketika malam Big Ben terlihat begitu aggunnya. Lampu-lampu disetipa jengkah sisinya menjadikannya tampak hidup di tengah ramainya kota London. Warna lampunya kekuningan dan suara dentingnya cukup kencang menjadi pengingat yang mempertegas bahwa inilah sentral GMT yang waktunya dijadikan patokan seluruh dunia. Ketertarikanku dengan Big Ben jauh ketika aku masih SMP. Guru bahasa Inggrisku menggambarkan bagaimana Big Ben lewat buku ajar, tetapi kini aku berdiri tepat di sampinya. Alhamdulillah, impian adalah awal dari sebuah penggerak hati dan pikiran untuk menjadikannya happened suatu saat nanti. Dan aku benar-benar membuktikanya.


Big Ben at night


Berpose di atas Sungai Thames

Sementara itu, aku teringat titipan teman-teman untuk mebawakan souvenir yang identik dengan London. Kebetulan di samping Big Ben ada penjual souvenir, dan begitu tahu aku dari Indonesia, waduh....ternyata di bisa bahasa Indonesia. “Mas ayo beli, murah, murah, murah”. Aku tanya ke dia, kok dia bisa bahasa Indonesia? Katanya banyak orang Indonesia yang ke London, dan setiap pulang pasti membeli oleh-oleh dari tempat dia. Hmmm, ternyat emang terkenal yang kita, heehe.

Kami sudah puas berjalan-jalan, sementara hujan gerimis mulai turun, aku memandangi indahnya lampu London Eye dari kejauhan sementara Sarah memanggilku untuk menuju mobil. Oh iya, dalam perjalan kami mampir juga ke Rumah Dinas Perdana Menteri Inggris di Downing Street. Jam 7 malam kami meninggalkan London menuju Southamton. Selama perjalanan pulang, Robb begitu antusias menyimak ulasan pertandingan sore itu dari klub idolanya Manchester City. Ya, dia pecinta Manchester City dan aku pecinta Machester United. Bola memang memangkas perbedaan budaya, bangsa dan bahasa. Kamipun larut dalam obrolan mengenai tim kebanggaan kami masing-masing. Tak terasa kami sudah sampai hotel, begitu masuk hotel aku lihat jam dinding sudah menunjukan pukul 9 malam. Alhamdulillah, petualangan hari ini di London memberikan banyak pengalaman dan pelajaran berharga. I hope can visit London again guys.


Rumah Dinas Perdana Menteri Inggris