Salam BUMI, Pasti LESTARI

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?
(Asy Syu'araa' :7)

Minggu, 27 Desember 2015

Hujan Abu Hantarkan Cinta Bersatu


Senin pagi, 27 Desember 2010. Aku duduk di dalam sebuah rumah yang ketika itu aku menyambanginya untuk ketiga kalinya. Sesekali aku lihat ke luar jendela, tampak keramaian orang-orang yang berdatangan. Tampak pula sahabat kuliah dan organisasi yang hadir, sengaja datang jauh-jauh ke bumi Ngawi kaki Gunung Lawu keluar dari hiruk pikuk suasana kota. Tangan kananku memegang mushaf Al-Quran sambil kubuka dan kubaca untuk mengurangi rasa gugup akan hadirnya waktu yang agung dalam perjalanan hidupku. Sekitar pukul 09.00 pagi, akupun dipersilahkan menuju ruang joglo tengah untuk duduk berhadapan dengan seorang laki-laki paruh baya yang baru aku jumpai untuk ketiga kalinya. Di sekelilingnya adalah para kerabat yang sebagaian besar baru aku lihat pada hari ini juga. Janji suci ikatan kasih atas dua insan pun selesai terucap. Sejak hari ini resmilah kami menjadi sepasang suami istri. Kata orang, barangkali inilah jodoh, Allah mentakdirkan pertemuan dan proses yang singkat menuju pintu gerbang pernikahan.
Ingatanku masih segar bagaimana kami dipertemukan dan didekatkan melalui tangan Allah. Proses “pertemuan” kami jauh dari adegan-adegan di film maupun sinetron yang entah bertemu ketika tak sengaja menginjak kakinya di bus kemudian berkenalan, berlari dan saling bertabrakan di pojok gedung kuliah lalu berkenalan, lewat perantara teman kuliah dalam acara makan malam, atau tak sengaja bertemu di pasar, atau ketika tak sengaja berinteraksi lewat media sosial.

Kami didekatkan oleh Sang Pencipta dalam kondisi baju yang kotor dan kucel penuh abu, badan yang bau karena terbatasnya air dan waktu untuk mandi, listrik yang kadang hidup kadang mati, tidur beralaskan tikar dengan tumpukan sembako dan perlengkapan darurat di sekelilingnya, makan seadanya dalam kesederhanaan, dan tentunya kewaspadaan akan datangnya bahanya yang setiap waktu akan datang.

Kami didekatkan oleh Sang Khaliq ketika sama-sama menjadi relawan ketika erupsi Gunung Merapi awal Oktober 2010 yang menurut info dari pemerintah merupakan erupsi terbesar setelah tahun 80 an. Kami tergabung di bawah bendera IMAYO (Ikatan Mahasiswa Yogyakarta) dan bersama tim menghimpun bantuan dari berbagai pihak dan menyalurkannya di lokasi-lokasi yang terisolir dan minim bantuan. Kami harus mengambil resiko dengan menempuh jalan dengan jarak pandang terbatas, kendaraan yang sulit menuju lokasi karena tebalnya abu dan juga beberapa kali harus berlarian menuju daerah yang lebih aman lantara informasi erupsi susulan dari Merapi.

Entah kapan dan bagaimana detailnya mulai ada pembicaraan mengenai rencana menuju jenjang pernikahan, tetapi yang aku ingat adalah kunjungan pertemuan dan kunjungan pertama ke rumah orang tuanya adalah sekitar awal November 2010. Selepas itu disusul dengan pertemuan kedua dengan kedatangan orang tua dan kerabatku untuk melamar beberapa minggu kemudian. Dan di awal Desember diterimanya kabar melalui telepon mengenai waktu yang ditentukan oleh pihak istri kapan akan dilakukan ijab qabul pernikahan. Dan pada akhirnya berujung pada sebuah ijab qabul sederhana di rumah orang tua istri pada tanggal 27 Desember 5 tahun silam. Sebuah pertemuan dan proses yang sangat singkat.

Salah satu hal yang menarik adalah pertemuan pertamaku dengan orang tuanya di rumahnya. Naluri seorang ayah, ketika ada seorang pemuda yang datang ke rumahnya berkaitan dengan puterinya, pastilah akan pasang badan dan memastikan siapa sebenarnya orang yang datang. Kunjungan pertamaku diuji dengan harus “ dicuekin”selama kurang lebih 1 jam lantaran sang Bapak sedang sibuk berbenah atap rumah. Setelah itu, akhrinya bersedia menemuiku. Obrolan dibuka dengan perkenalan standar dan bincang- bincang ringan. Sang Bapak pun sepertinya mengujiku lewat diskusi ringan perihal pengelolaan kebun jatinya selepas tahu kalau aku adalah mahasiswa Fakultas  Kehutanan. Dan dari 1 jam obrolan, seingatku 50 menit untuk ngobrol mengenai pengelolaan jati yang aku anggap seperti layaknya pendadaran skripsi dengan pertaruhan apakah aku akan diloloskan sebagai calon suami puterinya dan 10 menit untuk perbincangan serius perihal rencana membangun keluarga. Dan hasilnya sebenarnya sudah aku ketahui pada hari itu juga. Sebuah jabat tangan erat dari sang Bapak ketika berpisah seolah berujar “Jaga anakku baik-baik!”

Tulisan ini aku tulis sebagai sebuah kisah dari awal perjalanan pernikahanku dan istri yang saaat ini genap berusia 5 tahun. Sekaligus agar anak-anak kami; Chayra, Aisy dan si jabang bayi yang bulan depan diperkirakan akan lahir ke dunia dapat membaca kisah pertemuan Abi dan Umi nya.