Salam BUMI, Pasti LESTARI

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?
(Asy Syu'araa' :7)

Jumat, 25 November 2011

Surat Buat Guruku (Guru di Rumah dan di Sekolah)...


Pagi itu, dengan seragam putih merah, tas hitam, sepatu hitam, aku melangkahkan kaki masuk ruang kelas. Dari luar catnya cokelat berpadu hijau, jendelanya besar. Dan dari dalam ruang kelas tampak seseorang Ibu yang sedang menggambar ikan di papan hitam yang pinggirnya sudah mulai rusak.
“Selamat pagi”, sapanya ramah sambil membungkukkan badan setinggi aku.
“Selamat pagi Bu guru, balasku dengan pelan.
“Nama ibu Bu Sun. Anton benar sudah mau belajar di kelas satu?”, tanyanya.
“Iya bu Guru, Anton sudah tidak mau di TK. Kemarin baru naik dari TK Kecil, kemudian di TK Besar 3 hari, karena bosan diajari menyanyi dan menggambar, minta naik ke kelas 1”, kata Bunda yang masih segar diingatan.
Dan mulai hari itu, aku resmi masuk SD (Sekolah Dasar). Senang rasanya, bisa mendapatkan teman-teman baru. Aku masih ingat, no Absenku 28, nomor paling bontot di kelas, hamper semuanya satu tahun di atasku.
Aku masih ingat, janjiku dengan Bunda. Kalau sudah masuk SD, tidak ada antar mengantar ke sekolah. Dan uang sakuku, 200 rupiah per hari.
“Anton harus belajar giat dan jangan nakal di sekolah”, pesan Bunda sambil mengelus kepalaku.
“Siap Bunda, Anton nggak akan nakal kok”, sambil melangkahkan kaki menuju sekolah yang berjarak 100 m.
Sebagai anak terakhir dari keluarga, Alhamdulillah Bunda dan Bapak tidak memanjakanku dengan Fasiltas yang berlebih.
Aku dididik untuk hidup sederhana dan bisa dibilang sangat sederahana. Bagaimana tidak, Bapak setiap hari berkantor di Sawah dan Ibu di pasar, dan tempat mainku selepas pulang sekolah, yaaa di sawah.
Kembali ke sekolah…
Aku beruntung bisa bersekolah di tengah guru-guru yang sabar dan penuh kasih sayang. Tak jarang, aku tiba-tiba mengambek, tidak mau belajar, lantasan dimarahin bu Guru, karena buat gaduh di kelas. Tapi aku kan tidak nakal, hanya membuat gaduh, heee.
Mulai kelas 1 sampai kelas 6 SD, aku hapal betul siapa guru-guruku. Terutama walikelasku. Dan aku hafal betul, apa yang diajarkan mereka kepadaku. Dan tentunya hafal juga, bagaimana cara mereka menghukumku kalau sedang bandel. Tapi yang jelas, kebandelan yang masih bisa ditoleransi.
Kelas 1 – kelas 4, prestasiku biasa-biasa saja,sepertinya kebanyakan main di sawah dengan temen-temen kampungku. Mencari ikan di parit, mencari keong, mandi lumpur di sawah yang baru panen, atau main layangan di siang bolong. Ya… mereka semua sahabat main yang setia… setia main terus…
Naik kelas 5, dengan sabarnya Bu Guru bertanya kepada Bundaku. Ketika itu, raport cawu III kelas 4.
“Bu Mur (panggilan Bunda), mas Anton sepertinya belum serius belajar”, Bu Guru membuka obrolan dengan Bunda.
“Iya Bu Guru, sepertinya memang harus lebih saya perhatikan belajarnya”, jawab Bunda.
Sesampainya di rumah, Bunda sama sekali tidak memarahiku. Dan apa yang beliau lakukan?
“Anton, besok senin Bunda mau puasa sunah. Anton mau ikut puasa tidak?”, Tanya Bunda sambil menciumku.
“Hmm, boleh Bunda”, jawabku.
Dan senin pagi, sekitar jam 3, aku benar-benar dibangunkan Bunda untuk sahur Puasa Sunah.
Mengantuk rasanya… tapi aku sudah berjanji dengan Bunda.
Dan senin pagi, rutinitas sekolah, Upacara Bendera. Dan mulai kelas 5, diminta oleh Bu Guru untuk jadi pemimpin upacara. Meski tubuhku kecil, jangan salah, teriakanku bisa buat orang satu sekolah heboh…
Waduh... Aku kan lagi puasa. Gimana nih?
Dan benar, di tengah-tengah upacara, ketika sampai pada Amanat Pembina upacara, badanku terasa mau roboh.
Keringat dingin dan pandangan tiba-tiba buyar.
Ya…. Ak pingsan…
Dan temanku, dari kelas sebelah, kebetulan 2 SD jadi satu, menggantikanku jadi pemimpin upacara.
Dibawalah aku ke UKS, diberi segelas teh anget dan minyak kayu putih.
“Mas Anton, istirahat dulu, tiduran di sini dulu, kata petugas UKS.
Dan semenjak itu, karena sudah berjanji dengan Bunda, aku rutin puasa senin dan kamis.
Dan keajaiban itu terjadi… (Soundtrak Sailormoon, favorit anak-anak seusiaku saat itu).
Rangkingku di kelas langsung melesat, akupun dapat rangkin 3 di Cawu I kelas 5.
“Anton, Bunda bangga, sip”, ungkap Bunda sambil mengacungkan jempolnya.
“Makasih Bunda, ini semua berkat Bunda”, sambil kupeluk Bunda.
Dan disekolah, Bu Guru Walikelasku juga kaget, mungkin dalam hatinya, kok bisa ya, Anton bisa dapat rangking 3 sekarang.
Tapi aku memuji kesabaran dan kegigihan Bapak Ibu Guruku di SD. Sangat gigih…
Dan seperti biasa, setiah hari senin 2 minggu sekali, aka jadi pemimpin upacara. Kalau sekarang tidak sampai pingsan, bisa jalan sendiri untuk pingsan menuju UKS, heee.
Naik kelas 6, Bapak dan Ibu terlihat lebih gigih mengajarnya dari sebelumnya.
Mungkin karena mendekati UAN kali ya?
Setiap datang lebih awal untuk belajar, sorenya masih les, sungguh, rutinitas di kelas 6 yang menyibukkan…
Aku masih ingat, berapa biaya sekolahku ketika SD, hmmm, kurang dari 5.000 rupiah. Tetapi, Bapak Ibu Guru benar-benar totalitas dalam mengajar.
Alhamdulillah, akhirnya lulus SD. Asyiiiikk, aku dapat rangking 3 di sekolah. Dan dari itulah, aku dapat bekal untuk dapat SMP terbaik di Kecamatanku. Sekali lagi, terimakasih untuk Bunda dan Bapak Ibu Guruku..
Selepas dari SD, aku tidak pernah lupa akan jasa mulia beliau. Ak dan temen2, biasanya ketika Lebaran, kami silaturahmi ke guru-guru SD kami, hingga lebaran 2 tahun lalu. Lebaran tahun kemarin, karena sudah menikah dan waktu libur semakin terbatas, aku belum bisa silaturahmi ke rumah beliau.
Mohon maaf ya Pak Bu, semoga selalu diberikan umur panjang untuk kita bertemu kembali..
Dan mulut ini tidak akan lupa untuk mendoakan, semoga Bapak Ibu Guruku selalu diberikan umur panjang, kebahagiaan, kemuliaan di dunia dan di surga kelak.
Dan tak lupa Buat Bundaku, aku merindukan masa-masa ketika kita bertemu kembali di surga Nya...
Aamiin.

~Dari anak didikmu yang dulu selalu merepotkan untuk dididik…
Anton Prasojo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar