Salam BUMI, Pasti LESTARI

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?
(Asy Syu'araa' :7)

Kamis, 07 Desember 2017

Jogjaku Sayang, Sawahku Hilang

Dua Bidadariku bersama Mbah Warto
Bagi orang yang pernah tinggal di Jogja, mungkin waktu kuliah, sekolah, tugas kerja, pasti sebagian besar sepakat kalau Jogja itu tempat yang nyaman buat tinggal. Kenyamanan akan lingkungan, fasilitas juga penduduknya. Bahkan ada tagline bagi orang yang lama tidak datang ke Jogja: “Jogja itu ngangenin Dab!” Bagi kamu yang pernah tinggal di Jogja, lokasi mana yang paling ngangenin? Hayo, coba ingat-ingat. Apakah tempat kampus kamu dulu, tempat kos, tempat nongkrong atau lokasi main bareng temen-temenmu? Pastinya, tempat itu membawa kesan dalam, dan membawa rindu melayang ke masa-masa itu. Cie..ciee !

Jogja dengan segala kenyamanannya menarik banyak orang untuk tetap tinggal di sana, meskipun sudah tidak lagi menjalani kuliah atau tugas kerja. Contoh simpelnya ya aku dan keluargaku. Tujuh tahun lalu, setelah menikah dan kemudian lulus dari Kampus Bulaksumur, kami mencoba peruntungan di Ibu Kota. Dasarnya “wong ndeso”, nggak betah tinggal di kota dengan kompleksitas yang sangat tinggi, kamipun memutuskan untuk pulang kembali ke Jogja setelah 3 bulan merantau. Padahal sebenarnya kami bukan orang Jogja asli lho.

Ya, sebagian mengatakan kami bukan pejuang tahan banting, tapi kami melihat dari sisi lain. Hidup tidak sekedar mencari pekerjaan dan ekonomi yang mapan, toh rezeki ada di mana-mana. Kami hanya berpikir, ingin membangun keluarga di tempat yang homey dan dekat dengan keluarga. Ternyata hal semacam itu tidak hanya terjadi dengan kami, banyak teman-teman yang juga mager (malas gerak) dari Jogja. Kondisi tersebut di satu sisi ternyata membawa dampak bagi Jogja, salah satunya di sector property. Kebutuhan tempat tinggal bagi para pendatang semakin besar. Selain itu juga banyak orang berinvestasi di Jogja untuk membangun kos-kosan, rumah kontrakan, bahkan apartemen. Sebegitu banyaknya property yang ditawarkan laris manis di pasaran. Tak ayal, harga tanah di Jogja meroket luar bisa dari waktu ke waktu.

Beberapa tahun yang lalu berusaha mencari sebidang tanah yang strategis, tidak jauh dari kota untuk kami bangun rumah sudah cukup susah. Mencari tanah dengan harga di bawah Rp 500.000/meter sudah susah, dapatnya pasti di pinggiran. Kalau mau yang dekat kota, yang harus merogoh kocek lebih, paling tidak 1-2 juta/m nya. Apalagi sekarang. Ingat sekali beberapa tahun lalu tempat dimana kami saat ini berteduh (Condongcatur, Sleman) lokasinya sudah di pojok, bersebelahan dengan sawah. Tapi hanya dalam hitungan beberapa tahun, sawah yang indah itu, sudah hilang semua, berubah menjadi rumah padat penduduk.  

Kalau menurut info dari REI (Real Estate Indonesia) DIY 2017, kenaikan harga tanah di Jogja mencapai 20% per tahunnya. Kenaikan ini yang dimanfaatkan oleh para pengembang untuk melebarkan sayap bisnis propertinya. Sebagai dampaknya, tanah-tanah pekarangan semakin terbatas, alhasil banyak dilakukan konversi tanah sawah menjadi pekarangan untuk kemudian dibangun perumahan. Sebagai contoh, Kabupaten Sleman dulunya terkenal sebagai lumbung padi di Jogja, tetapi sekarang sudah banyak sawah-sawah terkikis habis. Sebenarnya Pemda Sleman sudah mengendalikan pengeringan sawah ke pekarang melalui pengurusan Izin Peruntukan Penggunaan Tanah (IPPT), tetapi masih belum maksimal. 

Praktik di lapangan, para pemilik sawah dihadapkan dengan intensitas penawaran yang tinggi dan beragam dari para pengembang untuk menjual tanah sawahnya. Di dekat rumah ku misalnya, semakin sedikit ditemui adanya sawah. Kalau toh ada tanah berupa sawah, biasanya berupa bengkok atau tanah kas desa, yang sangat dibatasi penggunaannya untuk usaha di luar pertanian. 




Berdasarkan data dari BPS DIY, pada tahun 2012 luas sawah di DIY sebesar 56.364 Ha. Jumlah ini berkurang sebesar 1.072 Ha menjadi 55.292 Ha di tahun 2016. Apabila di rata-rata, 204.4 Ha sawah di Jogja hilang setiap tahunnya. Konversi terbesar terjadi di Kabupaten Sleman sebesar 801 Ha selama 5 tahun terakhir, atau sekitar 160.2 Ha per tahunnya. 

Mengutip apa yang disampaikan Subejo PhD, Dosen Fakultas Pertanian UGM di dalam artikel yang dimuat di Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 8 Maret 2017, hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi laju alh fungsi lahan pertanian adalah dengan mempercepat proses penyusunan Perda Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di semua kabupaten. Dengan ditetapkannya Perda LP2B yang terintegrasi dalam RTRW dapat segera ditetapkan kawasan pertanian yang dilindungi. Lahan pertanian yang dilindungi tentunya didasarkan pada situasi dan lokasi kawasan, aksesibilitas, kesuburan, irigasi, ketersediaan infrastruktur pertanian dan lain sebagainya.

Setelah penetapan kawasan lahan pertanian dilindungi, dapat segera diikuti dengan kebijakan dan program-program yang dirancang dan diimplementasikan oleh organisasi perangkat daerah (OPD) teknis. Sehingga secara terintegrasi dapat memberikan perlindungan pada lahan pertanian yang telah ditetapkan.

Pengendalian alih fungsi lahan pertanian dan perlindungan lahan pertanian harus mencakup semua aspek mulai hulu sampai dengan hilir. Program yang dapat dikembangkan antara lain pembangunan infrastruktur pertanian (irigasi, jalan usaha tani, gudang dan sebagainya). Kemudian penyediaan input dan sarana-prasarana usaha tani yang mudah diakses petani, dukungan pembiayaan usaha tani. Hal yang tidak kalah penting adalah jaminan pasar atas produk pangan.

Diluar itu semua, beberapa hari lalu, sebagaimana kegiatan rutin di pagi hari sebelum anak-anak berangkat sekolah, kami sempatkan main ke Taman Kuliner Condongcatur. Lokasi besutan Pemda DIY seluas 1,5 Ha yang menggabungkan konsep taman dengan sarana hiburan dan olah raga, terdiri dari 40 buah resto dan 80 buah kios. 

Disana kami bertemu Mbah Warto (bukan nama sebenarnya). Petani yang masih bertahan dari gempuran penawaran para pemburu tanah. Sawah Mbah Warto berlokasi di sisi Timur Tamkul berjumlah 3 petak, hasil warisan dari orang tuanya. Sekarang dia tinggal mengolah 2 petak karena yang 1 petak sudah dia jual untuk membangunkan rumah anaknya. 

Mbah Warto menceritakan, bagaimana hampir setiap minggu rumahnya dikunjungi para pemburu tanah, menawar untuk membeli sawahnya. Bertahun-tahun kondisi seperti ini berjalan. Hingga kini dia masih mantap untuk tetap mempertahankan sawah dan profesinya sebagai petani. 

Akan tetapi, Mbah Warto juga tidak tahu apakah anak-anaknya besok masih akan mempertahankan tanah sawahnya. Dia menuturkan, sawah di sebelahnya adalah milik kakaknya, yang setelah meninggal direncanakan dijual dan dibagi oleh anak-anaknya. 

Kisah Mbah Warto adalah gambaran bagaimana semakin beratnya warga lokal mempertahankan tanah sawahnya. Sebuah harapan terselip, agar sawah Mbah Warto tetap bertahan dan memberikan kesempatan bagi anak-anakku untuk bermain lumpur kembali, menanam padi dan setidaknya belajar bagaimana menjadi seorang petani. 

Sumber:
1. http://yogyakarta.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/73
2. http://krjogja.com/web/news/read/26594/Quo_Vadis_Alih_Fungsi_Lahan_Pertanian

Rabu, 29 November 2017

Lomba Infaq Pak Hadi

Pak Hadi
Sebuah notifikasi adanya pesan baru masuk di layar HP. Ternyata dari salah satu group WA yang aku ikuti. Seseorang kawan posting mengenai kabar duka.

“Inalillahi wainnailaihiroojiuun kapundhut wonten ngarsanipun Allah swt. BP. H. Suhadi Dimyati Ba. Pada hari selasa 28 Nov jam23.30 di Pedak Bumirejo smg husnul khotimah aamiin. Pemakaman akan dilaksanakan pukul 09.00”

Sejenak aku ingat-ingat nama itu. Pesan baru kemudian masuk, sebuah foto sebagai jawaban akan pertanyaan yang sama dari salah satu anggota group lainnya. Oh, aku ingat sekarang. Kami dulu di SMP memanggilnya Pak Hadi. Beliau adalah guru agama Islam sejak kelas I hingga kelas III.

Selasa, 07 November 2017

Ingatlah, Sang Malaikat Punya Batas Waktu

Kehadiran akan orang yang kita rindukan adalah sebuah anugerah. Ibuku hadir dalam mimpi, membangunkanku pukul 03.00 pagi ini. Sejenak aku duduk, mengingat mimpi menghampiriku. Tersenyum, merasakan hadirnya, tapi juga berbalut sedih karena ternyata hanya mimpi. Setidaknya bisa menjadi penawaran rindu di kalbu.

Kamis, 12 Oktober 2017

Tips Menghadapi Pekerjaan Baru

Hello Guys, ketika berada di dunia kerja sering kali kita berhadapan dengan berbagai hal, salah satunya adalah diberikan penugasan baru yang bisa jadi jauh dari pengalaman atau kemampuan yang kita miliki. Terus bagaimana dong? Apa kita tolak ya?

Eits, jangan cepat-cepat menolak, anggap ini sebagai sebuah tantangan, pasti ditempatkannya kita pada tugas tersebut sudah ada pertimbangannya. So, take it ! Sampaikan saja kalau kita akan coba pejalari dan lakukan semaksimal mungkin. Tentunya ini akan menjadi kredit penilaian tersendiri bagi kita cukup kooperatif dan loyal.

Selasa, 10 Oktober 2017

Petualangan ke Negeri Tirai Bambu

Teringat sebuah ungkapan, belajarlah hingga negeri China. Alhamdulillah ada kesempatan untuk mengunjungi negeri Tirai Bambu tersebut meskipun hanya sebentar. Sebuah event Pulp and Paper Global Conference membawaku melihat secara langsung seperti apa negeri yang anak bangsanya mampu menginjakan kaki di setiap jengkal belahan negara di dunia.

Kamis, 16 Maret 2017

Az Zumar 6 : Menunduk dan Berkhidmat

Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan? (Qs Az Zumar ayat 6)

Mari kita telaah bersama:
1. Adam sebagai lelaki diciptakan seorang diri kemudian Hawa diciptakan dr tulang rusuknya. Tulang rusuk itu ibarat tulang pelindung bagi organ2 dalam yg sangat vital. Diciptakannya perempuan sebagai istri adalah pelindung bagi suami. Laki-laki memang tampak kuat dr luar, tetapi dalam diri mereka ada sisi2 lemah yg mana para isterilah yg menguatkannya. Isteri menjadikan para suami tenang dan bahagia

2.  Diciptakannya binatang tenak 8 ekor yg berpasangan atau dengan kata lain 4 pasang jantan dan betina. Binantang apa saja itu? Unta, sapi, domba dan kambing. Keempat jenis ini diturunkan sebagai pelengkap dan pendukung hidup manusia. Itulah mengapa hewan2 ini dimuliakan sebagai hewan kurban, aqiqah, dan wajib terkena hitungan zakat apabila telah masuk nisabnya. Dan saat ini hewan2 inilah yg membantu kehidupan manusia dlm berbagai aktivitasnya serta memberikan nilai ekonomi bagi siapa yg memeliharanya.

3. Tiga kegelapan dalam yg dialami seorang manusia yakni kegelapan dalam rahim, perut ibu, dan selaput bayi. Manusia yg diciptakan melalui sebuah proses maha dahsyat dr air mani (nutfah), segumpal darah ('alaqah) dan segumpal daging (mudghah). Proses itulah yg menjadikan manusia menjadi bentuk seperti saat ini di dunia. Apa yg perlu disombongkan, bukankah kita hanya berasal dr tetesan cairan itu?

Kesemuanya memberikan pelajaran berharga untuk mengingat apa dan siapa kita saat ini adalah mahluk ciptaanNya yg Maha Esa.

Condongcatur, ba'da shubuh16 Maret 2017

Kamis, 09 Februari 2017

Negeri Saba, Negeri Makmur Lalu Hancur

Terlepas dari berbagai perdebatan mengenai dimanakah lokasi sebenarnya  negeri Saba, mari kita fokus untuk  mengambil  pelajaran berharga agar apa yang terjadi di negeri itu di masa lalu  tidak terjadi di negeri kita. 

“Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan), "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon asl, dan sedikit dari pohon sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir” (Surat Saba 15-17)

Selasa, 07 Februari 2017

Ngambeg Berhutang

Seorang adek angkatan di kampus yang akan ijab qabul bertanya kepadaku beberapa waktu lalu. “Mas, menurut jenengan  apa yang musti diperhatiin ketika mulai berkeluarga, terutama masalah keuangan dan kebutuhan hidup?”. Aku spontan  menjawab, “Usahakan sebisa mungkin jangan berhutang”. “Lho, apa hubungannya dengan berhutang, kok penting?”, tanyanya lebih lanjut.

Jumat, 03 Februari 2017

Rimba Beradab


Oh Tuhan
Kau ciptakan kami serasi melengkapi
Hadirkan cinta sarat makna
Jauh dari keruhnya prasangka
Jauh dari kejamnya dusta
Jauh dari amisnya dengki

Oh Tuhan
Kau pertemukan kami di tanah ini
Kembalikan hakikat arti sahabat
Dekat bebasnya nafas
Dekat hijaunya tajuk
Dekat basahnya embun


Oh Tuhan
Betapa malu ku hadapi ciptaanMu
Hukum rimbanya lebih beradab
Batang tinggi kuat mengayomi
Terbang bebas tiada menindas
Kicauan indah tanpa pongah
Merayap senyap penuh hormat
Menetes jernih sirnakan perih

Oh Tuhan
Kapan lagi Kau sandingkan kami
Haruskah kulepas kedamaian ini
Kembali umbar busuknya cacian
Kembali pelototi angkuhnya perpecahan
Kembali tampar ringkihnya perbedaan

Oh Tuhan
Ragaku pulang menggenggam rindu
Mengalir haru tertiup bayu
Menatap asa teriring doa
Manusia sejatinya berakhlaq surga

Anton Prasojo, TN Gn. Halimun Salak 1-3 Feb 2017

Jumat, 27 Januari 2017

Budayakan Olahraga Ya Guys


Badan sehat, hidup nikmat. Memiliki badan yang sehat adalah harapan semua orang. Berbekal kesehatan setiap orang mampu  menjalankan aktivitas sehari-hari dengan penuh semangat dan kemudahaan. Bisa kita bayangkan apa yang akan hilang dari hidup ketika kesehatan tidak lagi bersama  kita.

Kesehatan sebagai bagian pemberian dari Tuhan sudah sepantasnya kita jaga dengan sebaik-baiknya. Salah satu cara untuk menjaganya adalah dengan melakukan olahraga fisik. Olahraga fisik banyak macamnya, kita tinggal pilih mana yang asyik untuk dijalankan.

Keasyikan olahraga  akan terasa ketika kita  melakukannya secara bersama-sama dengan  teman-teman.  Tidak hanya keringat yang keluar dari  badan kita, melainkan persaudaraan  dan  stress yang akan hilang.  

Berolahrga bersama teman-teman membuat kita tidak bosan dalam melakukannya. Aku sendiri lebih  memilih olahraga  bersama-sama daripada lonely. Setidaknya ada 2 jenis olahraga yang secara rutin aku lakukan, Futsal dan Tenis lapangan. Keduanya aku lakukan bersama  teman-teman kantor.





Futsal biasanya dilakukan setiap 2 minggu sekali, sementara tenis lapangan dilakukan 1 minggu sekali. Keduanya menjadi pilihan yang asyik bagiku untuk menjaga  kesehatan agar badan  ini  tetap  bisa  sehat, bugar dan  bersemengat  untuk  menjalani aktivitasa  padat  sehari-hari. Yuk, kita jaga terus budaya hidup sehat dengan olahraga ya Guys!

Rabu, 18 Januari 2017

Eh, Kamu Naik Gaji Nggak ?

“Eh, dah tahun baru,  wah, naik  gaji  dong?”
“Tahun  baru,  siapa yang naik jabatan ya?”

Itulah beberapa kalimat pertanyaan yang sering aku  dengar menjadi buah bibir di  awal tahun. Ya, awal tahun kerap  dijadikan momentum untuk  perubahan baik di instansi negeri maupun swasta. Sebuah  langkah untuk menata organisasi dan memberikan penyesuaian insentif bagi para pegawainya. Awal tahunpun disambut dengan suka cita oleh sebagian besar orang, berharap ada implikasi positif dalam jenjang karir dan kenaikan penghasilan.

Jumat, 06 Januari 2017

Kepongahan Kaum Pemahat Gunung


Rumah Kaum Tsamud (Source: Republika Online)
Benar adanya bahwa Nabi diturunkan sesuai kondisi kaumnya. Mari kita belajar dari kisah kaum Tsamud di zaman Nabi Saleh yang hidup setelah kaum 'Ad. Kaum yang hidup di Kota Hijr (Batu), sebuah kota di antara Yaman selatan dan utara Madinah yang saat ini disebut dengan nama Madain Saleh. 

Kaum Tsamud dianugerahi kekuatan dan kepintaran yg luar biasa. Mereka mampu mengukir dan memahat gunung yang terjal dan gersang menjadi rumah bak istana sebagai tempat tinggal mereka. Mereka menguasai teknologi yang luar biasa dengan mengubah gunung menjadi tempat tinggal.

Disisi lain, mereka mempunyai tabiat membuat kerusakan di bumi. Salah satu bentuk kejahatannya adalah mengurangi kadar emas dan perak sebagai alat transaksi. Mereka menjadikan nilai emas dan perak tidak sesuai kadarnya dan menipu orang-orang dengannya. Ini adalah kejahatan luar biasa, merusak perekonomian global, melakukan penipuan demi keuntungan golongan mereka.

Nabi Saleh diutus oleh Allah SWT untuk memperbaiki kondisi kaum Tsamud. Jauh sebelum menjadi seorang nabi, Nabi Saleh dikenal sebagai orang yang jujur, penuh kebaikan dan kematangan ilmu. Itulah yang membuat geger kaum Tsamud ketika Nabi Saleh memulai dakwahnya untuk mengajak kaumnya menyembah Allah SWT.

Sebagian kecil menerima ajakan Nabi Saleh sementara sebagian besar mengingkarinya. Mereka menantang Nabi Saleh untuk menunjukan kebesarannya kalau memang ia adalah utusan Allah SWT.
Atas izin Allah SWT, keluarlah seekor unta betina dari batu gunung yang pecah dan juga melahirkan seekor unta kecil. Orang-orang heran bagaimana mungkin ada unta bisa keluar dari batu di gunung. Selain itu menurut beberapa riwayat unta tersebut sangat spesial dimana mampu menyediakan susu bagi seluruh kaum Tsamud dalam satu waktu dan ketika unta meminum air di sumur tidak ada satupun hewan yang berani mendekat. Akan tetapi hak itu ternyata tidak serta merta menjadikan mereka beriman. Kesombongan telah melingkupi hati dan pikiran mereka.

Melihat perkembangan dakwah nabi Saleh, para pembesar kaum Tsamud yang dimotori oleh 9 orang kemudian merencanakan makar. Sebuah rencana pembunuhan terhadap unta tersebut dan dilanjutkan usaha pembunuhan terhadap Nabi Saleh.

Unta betina tersebut berhasil dibunuh. Merka tidak menghiraukan pesan Nabi Saleh untuk tidak sedikitpun menggangggunya. Murka Allah pun datang.

Melalui Nabi Saleh, Allah SWT berpesan agar kaum Tsamud menghabiskan waktu untuk bersuka cita selama tiga hari merayakan keberhasilan mereka membunuh unta tersebut. Setlah itu balasan dari Allah akan datang.
Mendengar ucapan itu, kaum Tsamud tidak juga bergeming. Mereka justru menanggapi dengan remeh sambil berkata "Mana mungkin kita akan kedatangan adzab tiga hari lagi sementara sebelum itu kuta bunuh Nabi Saleh".

Upaya membunuh Nabi Saleh di malam hari di rumahnya gagal atas izin Allah SWT. Datanglah adzab yang sudah dijanjikan. Rusak dan luluh lanahnya semua yang mereka miliki. Istana-istana kokoh di gunung hancur tak bersisa sepertinya hancurnya kaum Tsamud yang tiada beriman.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir Surat An Naml 48-53


Rabu, 04 Januari 2017

Pelajaran 5000 Rupiah

Hari ini Tuhan memberikan pelajaran berharga. Aku sedikit tergesa-gesa meninggalkan lokasi kerja di Semarang untuk kembali ke Jogja. Angkot warna orange menjadi alternatif yang pas untuk segera sampai di Sukun, tempat bus langganan Semarang-Jogja mangkal.

Tidak ada satupun yang aneh terasa ketika berangkat, hingga tiba waktunya di perjalanan kurogoh tas mencari uang Rp. 5,000 untuk membayar angkot. Dengan sedikit kebingungan dan mencoba mencari beberapa kali, akupun sadar kalau tas pinggang tempat dompet beserta uangnya tertinggal di tempat kerja, tidak ada sepeserpun uang yang aku bawa. "Lantas bagaimana aku membayar ongkos angkotnya?", pikiran pertama yang muncul dalam benakku.

Kisah Fir'aun, Pelajaran Abadi Sepanjang Masa

Sebuah kisah populer hingga Allah SWT menjadikannya sebagai kisah yang paling banyak diceritakan setelah kisah penciptaan makhluk. Lantas apa maksud Allah menceritakan kisah Fir'aun tersebut secara berulang-ulang di dalam Al Qur'an? Tidak lain agar manusia mengambil pelajaran penting dalam kehidupan.

Sifat Fir'aun menggambarkan manusia yg sudah melampaui batas (tagyun), kufur atas nikmat Allah SWT. Lupa darimana asal muasal semua yang ia dapatkan. Dengan semua karunia Allah SWT yg menjadikannya raja Mesir lengkap dengan kekuasaan dan kemewahan menjadikan ia lupa diri, seolah ia lah pemilik semua sumber daya termasuk rakyat di dalam negerinya. Ia pun mendeklarasikan diri sebagai "Tuhan" untuk menguatkan posisinya dalam menindas dan melanggengkan kekuasaannya. 

Rabu, 25 November 2015

Surat Cinta untuk Guru SD Ku


Cerahnya matahari pagi itu, sekitar 20 tahun yang lalu, dengan seragam putih merah, tas hitam, sepatu hitam, aku melangkahkan kaki masuk sebuah ruang kelas. Tampak dari luar cat dindingnya cokelat berpadu hijau, jendelanya besar dan bening. Begitu masuk, kulihat seorang wanita paruh baya yang sedang menggambar ikan di papan hitam yang keempat sisinya sudah mulai rusak. Tangan kanannya tampak kotor dengan debu kapur dan tangan kirinya memegang  sebuh penghapus kayu.

“Selamat pagi!”, sapanya ramah sambil membungkukkan badan setinggi aku.
“Selamat pagi Bu guru, balasku dengan pelan.
“Nama ibu Bu Sun. Anton benar sudah mau dan siap belajar di kelas satu?”, tanyanya.
“Iya bu Guru, Anton sudah tidak mau di TK. Kemarin baru naik dari TK Kecil, kemudian di TK Besar 3 hari, karena bosan diajari menyanyi dan menggambar, minta naik ke kelas 1”, kata Bundaku yang mengantar waktu itu.

Dan mulai hari itu, aku resmi masuk SD N 2 Ambartawang, sebuah sekolah negeri yang letaknya sekitar 300 m dari rumah. Senang rasanya, bisa mendapatkan teman-teman baru. Aku masih ingat, no Absenku 28, nomor paling bontot di kelas, hampir semuanya satu tahun di atasku.

Aku masih ingat, janjiku dengan Bunda. Kalau sudah masuk SD, tidak ada antar mengantar ke sekolah, cukup sekali saja ketika di awal. Setiap berangkat sekolah aku mendapatkan uang saku, Rp. 200,-. Cukup buat jajan di kantin sekolah yang lokasinya di belakang kelasku. Masakan kari ayamnya enak walaupun susah mencari ayamnya, kebanyakan kuahnya, hehe.

Hari itu, Bundaku hanya mengantar sebentar saja. Dia pergi dengan sebuah pesan sembari mengelus kepalaku“Anton harus belajar giat dan jangan nakal di sekolah”.
“Siap Bunda, Anton nggak akan nakal kok”, balasku meyakinkan.

Aku beruntung bisa bersekolah di tengah guru-guru yang sabar dan penuh kasih sayang. Aku termasuk anak yang "anteng" walalupun sesekali membuat gaduh di kelas. Kalau sudah diperingatkan oleh Bu Guru, munculah sifat ngambek, tidak mau belajar. Tetapi dengan sabarnya Bu Guru menenangkan dan mengarahkan.

Hingga kini, aku hafal betul siapa guru-guruku ketika SD, terutama para walikelasku. Masih segar dalam ingatan apa yang diajarkan mereka kepadaku. Dan tentunya teringat juga bagaimana cara mereka menghukumku kalau sedang bandel. Sebuah hukuman yang belakang aku tahu sebaik cara untuk mendidiku.

Kelas 1 hingga kelas 4, prestasiku biasa-biasa saja,sepertinya kebanyakan main di sawah dengan temen-temen kampungku. Mencari ikan di parit, mencari keong, mandi lumpur di sawah yang baru panen, atau main layangan di siang bolong. Ya… mereka semua sahabat main yang setia… setia main terus.

Ketika akan naik kelas 5, Bundaku datang dalam pembagian raport cawu III kelas 4. “Bu Mur (panggilan Bunda), mas Anton sepertinya belum serius belajar”, Bu Guru membuka obrolan dengan Bunda.
“Iya Bu Guru, sepertinya memang harus lebih saya perhatikan belajarnya”, jawab Bunda.
Sesampainya di rumah, Bunda sama sekali tidak memarahiku. Dan apa yang beliau lakukan?
“Anton, besok senin Bunda mau puasa sunah. Anton mau ikut puasa tidak?”, Tanya Bunda sambil menciumku.
“Hmm, boleh Bunda”, jawabku.

Senin pagi, sekitar jam 3, aku benar-benar dibangunkan Bunda untuk sahur Puasa Sunah.
Mengantuk rasanya… tapi aku sudah berjanji dengan Bunda. Akupun ikut berpuasa meskipun tahu hari itu adalah hari senin, hari dimana wajib ikut upacara bendera karena kebetulan aku jadi pemimpin upacara. Meski tubuhku kecil, jangan salah, teriakanku bisa buat orang satu sekolah heboh…

"Waduh... Aku kan lagi puasa, imana nih?",ungkapku dalam hati.
Ternyata  benar, di tengah-tengah upacara, ketika sampai pada Amanat Pembina upacara, badanku terasa mau roboh. Keringat dingin dan pandangan tiba-tiba buyar.Ya…. Ak pingsan…

Untungnya, temanku dari kelas sebelah menggantikanku jadi pemimpin upacara. Selanjutnya, dibawalah aku ke UKS, diberi segelas teh anget dan minyak kayu putih.
“Mas Anton, istirahat dulu, tiduran di sini dulu, kata petugas UKS.
Semenjak itu, karena sudah berjanji dengan Bunda, aku rutin puasa senin dan kamis.
Dan keajaiban itu terjadi… (teringat sebuah soundtrack Sailormoon, favorit anak-anak seusiaku saat itu). Rangkingku di kelas langsung melesat, akupun dapat rangking 3 di Cawu I kelas 5.
“Anton, Bunda bangga, sip”, ungkap Bunda sambil mengacungkan jempolnya.
“Makasih Bunda, ini semua berkat Bunda”, sambil kupeluk Bunda.
Dan disekolah, Bu Guru Walikelasku juga kaget, mungkin dalam hatinya, kok bisa ya, Anton bisa dapat rangking 3 sekarang.

Dan seperti biasa, setiah hari senin 2 minggu sekali, aka jadi pemimpin upacara. Kalau sekarang tidak sampai pingsan, bisa jalan sendiri untuk pingsan menuju UKS, heee.

Naik kelas 6, Bapak dan Ibu Guru terlihat lebih gigih mengajar dari sebelumnya.
Mungkin karena mendekati UAN kali ya? Setiap hari datang lebih awal untuk belajar, sorenya masih les, sungguh rutinitas di kelas 6 yang menyibukkan…
Aku masih ingat, berapa biaya sekolahku ketika SD, kurang dari 5.000 rupiah. Akan tetapi, Bapak Ibu Guru benar-benar totalitas dalam mengajar.

Alhamdulillah, akhirnya lulus SD. Asyiiiikk, aku dapat rangking 3 di sekolah. Berbekal itulah aku dapat kunci untuk diterima di SMP terbaik di Kecamatanku. Dengan segala kerendahan hati, terimakasih untuk Bunda dan Bapak Ibu Guruku yang telah mendidiku.

Selepas dari SD, aku tidak pernah lupa akan jasa mulia beliau. Aku dan teman-teman biasanya ketika Lebaran, kami silaturahmi ke rumah guru-guru SD kami, hingga lebaran 5 tahun lalu. Lebaran belakangan ini , karena sudah menikah dan waktu libur semakin terbatas, aku belum bisa silaturahmi ke rumah para pendidiku lagi.

Mohon maaf ya Bapak Ibu Guru, semoga kalian selalu diberikan umur panjang untuk kita bertemu kembali. Semoga kebahagiaan, kemuliaan di dunia dan di surga kelak.
Dan tak lupa Buat Bundaku, aku merindukan masa-masa ketika kita akan bertemu kembali di surga Nya.Aamiin.

Akhir kata, selamat Hari Guru, guru di sekolah dan di rumah.

~Dari anak didikmu yang dulu selalu merepotkan untuk dididik…
Anton Prasojo

Rabu, 28 Oktober 2015

Menjaga Nyala Api "Soempah Pemoeda 1928"


SOEMPAH PEMOEDA
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928
 

Masih ingatkah kita dengan detail isi teks Soempah Pemoeda di atas? Saya tidak akan menghakimi, karena saya sendiri juga belum tentu mengucapkannya sekali dalam setahun setelah lama lepas dari sekolah umum yang biasanya ketika upacara bendera diminta mengucapkannya bersama-sama. Kalau mengucapkannya saja belum tentu setahun dilakukan, apalagi menyimpan hafalannya. Dan saya pun bagian dari siswa yang dulu menghafalnya dan sekarang harus mengingat-ingat atau bahkan searching di Google untuk memastikan kebenaran detail isi teksnya. Terlepas dari itu semua, saya yakin dari kita semua pasti paham mengenai makna dan semangat dari Soempah Pemoeda.

Sumpah Pemuda, salah satu tonggak sejarah yang sangat penting 87 tahun silam. Sebuah pintu gerbang yang dibuka oleh semangat para pemuda yang pada akhirnya mendorong bangsa kita menuju kemerdekaan.

Sumpah Pemuda, dihadiri oleh 90 pemuda istimewa dari seantero nusantara. Kita bisa membayangkan, bagaimana para Panitia Kongres Pemoeda yang terdiri dari 9 diketuai oleh Soegondo Djojopoespito (PPPI) mampu mengumpulkan pemuda dalam sebuah hajatan besar dengan segala keterbatasannya. Zaman itu belum ada group BB, Facebook, Twitter, atau WA yang dengan mudah sebuah event  dapat dishare ke orang-orang yang bersangkutan lengkap dengan detail tempat, waktu, dan konfirmasi kehadiran. Sehingga kita bisa membayangkan bagaimana kerja keras dan totalitas para pemuda untuk menjadikan Kongres Pemoeda terlaksana.

Gambaran di atas baru bagian dari hambatan sisi teknis berkomunikasi, belum lagi ditambah tekanan pemerintahan Belanda yang mengangkangi bangsa kita ketika itu. Dan hal itu terlihat jelas dengan kehadiran Van der Plaas dalam kongres, sebagai wakil dari Pemerintahan Belanda dan mengawasi dengan ketat jalannya Konggres Pemoeda. Van der Plaas adalah seorang pengawai sipil Belanda yang tersohor dan kemudian mencapai puncak karir sebagai Gubernur Jawa Timur pada tahun 1936-1941. Akhir kekuasaannya sebagai Gubernur Jawa Timur berakhir ketika Jepang mengalahkan Belanda.

Meskipun dengan berbagai tantangan tersebut akhirnya Kongres Pemoeda berhasil menghasilkan Teks Soempah Pemoeda yang dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah. Dan lokasi tersebut pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie Kong Liong.

Beranjak dari sebuah sejarah monumental, mari kita lihat apa yang bisa kita lakukan sebagai pemuda masa kini. Kalau dahulu pencetus Soempah Pemoeda berjuang untuk sebuah kemerdekaan, selanjutnya paska kemerdekaan kita berjuang untuk mempertahankan dan mengisinya dengan pembangunan di segala bidang, lantas apa yang seharusnya saat ini dilakukan oleh para pemuda?

Pertanyaan yang sama juga pernah saya lontarkan kepada para mahasiswa bulan September lalu ketika saya diundang untuk memberikan pelatihan dalam proses suksesi kepengurusan Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) Fakultas Kehutanan UGM , “tempat kuliah” saya di luar kelas yang telah memberikan banyak pembelajaran berharga.

Jawaban dari mahasiswa beragam, dan ada satu jawaban yang saya sangat sependapat. Tugas kita sebagai pemuda saat ini tidak hanya mengisi kemerdekaan atau sekedar mempertahankannya, tetapi sudah menjadi tugas kita untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara maju. Negara yang mempunyai tingkat perekonomian dan kehidupan masyarakatnya sudah berada dalam tahap maju, atau dengan kata lain Negara yang sudah mampu mandiri dan berpikir secara kreatif.

Negara maju tidak lahir serta merta dengan berpangku tangan, tapi dengan sebuah proses yang panjang diiringi kerja keras tanpa henti. Saya jadi ingat sebuah pepatah dari salah Negara maju, Norwegia. "There is never bad weather or too cold, Just dress properly" atau secara sederhana kita artikan, “Tidak ada yang namanya cuaca buruk, yang ada hanyalah bagaimana kita berpakaian menyesuaikan cuaca”. Berdasarkan informasi dari situs UNDP (United Nations Development Programme) Negara yang beribukota di Oslo ini dinobatkan sebagai Negara paling maju di dunia dengan Human Development Index (HDI) mencapai 0,944, sementara Indonesia masih tertinggal jauh di nomor 108.

Lantas, apa yang membuat Norwegia begitu maju sementara kondisi iklimnya temperat, tidak senyaman iklim di Negara kita. Bahkan, di bagian utara negara ini juga dikenal sebagai Tanah Matahari Tengah Malam karena terletak di ujung paling utara bumi, dimana ketika musim panas, matahari tidak pernah tenggelam dan ketika musim dingin, matahari tidak pernah muncul sama sekali.

Hal utama yang membuat Norwegia begitu maju adalah tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan bermoral. Saya katakan tidak hanya unggul, tapi SDM bermoral yang tercermin peringkat Negara berpenduduk 4,9 juta ini sebagai 5 besar Negara paling bersih (tidak ada korupsi).

SDM yang unggul dan bermoral hanya bisa didapatkan dengan tempaan proses pendidikan yang berkualitas. Pada bagian ini saya tidak ingin lebih jauh membahas siapa yang paling bertanggung jawab untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas, apakah pemerintah saat ini sudah memfasilitasi untuk itu atau belum. Saya lebih tertarik untuk membahas apa yang bisa kita lakukan untuk meraih pendidikan yang berkualitas daripada mempertanyakan kapan kita bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas.

Upaya untuk meraih pendidikan yang berkualitas menjadi tanggung jawab kita masing-masing, terutama para pemuda Indonesia. Ketika mulai menanggalkan baju putih dan celana panjang abu-abu dan bergabung dalam organisasi kemahasiswaan, saya “dicekoi” bahwa pemuda adalah Iron Stock-pemegang tongkat estafet generasi sebelumnya, Agent of Change-pembawa perubahan, dan Social Control-peka dan aktif dengan kondisi sosial masyarakat.

Kesemua label besar tersebut tidak akan mampu dipikul oleh pemuda ketika tidak ada semangat untuk meraih pendidikan berkualitas melalui peningkatan kapasitas diri baik hardskill (akademik/teknis) maupun softskill (non akademik). Banyak dari pemuda yang terjebak untuk sekedar mengembangkan diri melalui alur pendidikan  formal guna meraih gelar akademik, tetapi mengesampingkan pengembangan diri yang bersifat non akademik seperti inisiatif, komitmen,     motivasi, kreativitas, komunikasi, berfikir kritis, mandiri, integritas diri dan masih banyak lagi.

Dan semua hal yang berkaitan dengan softskill, tidak bisa kita pasrahkan kepada pihak lain, melainkan tumbuh dari semangat dan kemauan yang keras dari kita untuk mencapainya. Pelajaran-pelajaran formal di ruang kelas tidak akan cukup untuk membekali kita sofskill yang mumpuni. Buka pintu, dan keluarlah, lihat betap luasnya ruang belajar di luar kelas. Janganlah sekat-sekat padatnya kuliah atau pelajaran sekolah lantas menghambat kita untuk belajar hal-hal yang jauh lebih banyak di luar sana.

Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah terlibat aktif diberbagai organisasi atau gerakan sosial baik di dalam dan di luar institusi pendidikan. Keberadaan kita di dalamnya akan mengkayakan softskill dan mengasah kepekaan sosial. Tumbuhnya kepekaan sosial antara manusia yang satu dengan lainnya akan menumbuhkan moralitas yang tinggi sebagai sesama manusia.

Harapannya, sinergitas antara hardskill dan softskill akan mampu membawa bangsa tercinta ini untuk menjadi Negara maju dengan SDM yang unggul dan bermoral. Kita pasti bisa!

Solo, 28 Oktober 2015

Sabtu, 24 Oktober 2015

Manusia Berlabel Si Kaya dan Si Miskin


Minggu sore pertengahan Oktober, di sela-sela waktu membantu istri menjaga “lapak ” produk jilbab kaos andalan kami (www.jilbamazaya.com) di pamerah produk UKM dan Koperasi se-Indonesia di Jogja Expo Centre, aku dan anak-anak mengunjungi panti asuhan La Tahzan. Panti asuhan ini adalah salah satu dari 4 panti asuhan binaan gerakan amal kolektif Taman Karunia (www.tamankarunia.org), dimana saat ini Taman Karunia sudah berusia hampir 4 tahun.
Panti asuhan yang berlokasi di Bantul, Yogyakarta ini membina sekitar 30 anak yatim, piatu dan dhuafa yang kesemuanya bersekolah setingkat MAN. Panti asuhan ini tidak hanya tempat singgah, melainkan juga pesantren yang membekali santrinya dengan berbagi pengetahuan dan hafalan Al-Quran.
Taman Karunia hadir dipanti asuhan tersebut untuk memberikan dukungan biaya pendidikan bagi anak-anak yang bersekolah di Man Lab UIN sekaligus memberikan training pengembangan diri yang dilaksanakan setiap bulannya. Training tersebut kami harapkan mampu memberikan bekal pengetahuan dan wawasan bagi adek-adek kami di masa yang akan datang.
Pada kesempatan diskusi bulan ini, ada pertanyaan menarik dari salah satu santri. “Siapa sebenarnya Si Kaya dan Si Miskin?”.
Jawaban singkatku akan pertanyaan ini dapat ditemukan pada bagian akhir tulisan ini, tetapi sebelumnya mari coba kita baca uraian perenungannya.
Kalau pertanyaan yang sama ditujukan kepada kita, lantas seperti apa jawabannya. Bisa jadi, mayoritas dari kita akan menjawab Si Kaya adalah orang yang mempunyai mobil mewah, rumah megah, simpanan tabungan berlimpah, jabatan tinggi, dan sederet tampilan kemewahan lainnya. Dan sebaliknya, Si Miskin adalah orang dengan kondisi sebaliknya, rumah reot, mobil tak ada, jadi jongos dimana-mana, makan senin dan kamis, galian hutang dalam mencekam dan setumpuk gambaran penderitaan hidup di dunia.
Sebenarnya, dari manakah label Si Kaya dan Si Miskin berasal? Ada satu hal utama yang melatarbelakangi manusia dikatakan kaya atau miskin, yakni, penilaian orang lain. Orang memberikan penilaian berdasarkan kemewahan yang tampak dan melekat pada dirinya. Dan apa yang terjadi saat ini, dimana banyak orang berlomba untuk meraih predikat sebagai orang kaya, bisa jadi hanya sebatas mengejar penilaian orang atas dirinya, bukan menjadikan kekayaan sebagai jembatan untuk menolong sesama dan mendekatkan diri kepadaNya.
Lantas, sebenarnya apa yang terjadi dengan orang yang berlomba-lomba menimbun kekayaan sementara hatinya tidak pernah puas? Itu semua karena hilangnya rasa syukur terhadap apa yang diberikan oleh Allah SWT. Hal yang dirasakannya hanya kekurangan, kekurangan dan kekurangan.
Pada akhirnya dia akan tetap melakukan berbagai cara untuk memuaskan diri dengan tambahan kekayaannya, tetapi jangan dikira dengan semakin kaya pasti akan semakin bahagia. Sebuah cerita sedih datang kepada aku ketika ada sepasang suami istri begitu bahagia ketika awal-awal janji suci diucapkan dengan segala keterbatasannya. Akan tetapi, begitu kesuksesan digapai dan harta tercukupi, justru kebahagiannya terasa hilang sirna seutuhnya. Ya, sebagian orang bisa dengan mudah melewati kemiskinan, tetapi sulit lulus dari ujian keberlimpahan.
Di sisi lain, sebagian dari kita pasti pernah mendengar orang berceloteh, “ Enak yang jadi orang kaya, bisa ini, bisa itu dengan mudah!” Eits, jangan salah kita tidak pernah tahu apakah kekayaan yang diraihnya apakah dirihoi oleh Allah SWT atau tidak. Indikatornya sederhana, apakah kekayaan tersebut membawa keberkahan dalam hidup atau sebaliknya menjerumuskan.
Kita perlu mengingat kembali, ada dua cara Allah memberikan rizki harta kepada manusia. Pertama diberikannya secara baik dengan jalan dari hasil keringat yang menetes untuk pekerjaan-pekerjaan yang lurus. Dan yang kedua, diberikan dengan dilempar ke mukanya sebagai “upah” dan membuatnya semakin tenggelam dalam keberlimpahan yang semu.
Dan jawaban singkatku mengenai siapa Si Kaya dan Si Miskin merujuk pada Hadits Riwayat Bukhori No. 6081 dan Muslim No. 1051, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan/kecukupan (dalam) jiwa (hati).” Ada ungkapan lain juga yang menyebutkan bahwa Si Kaya adalah orang yang sibuk membagi-bagikan hartanya untuk menolong orang lain, sementara Si Miskin adalah orang yang sibuk mengumpulkan untuk dirinya sendiri.
 
Perjalanan udara Yogyakarta-Surabaya
22 Oktober 2015
 

Sabtu, 10 Oktober 2015

Dahlan Iskan Tak Berhenti "Berulah"

Selepas shalat shubuh di masjid dan pamitan dengan istri beserta anak-anak, akupun bergegas menuju bandara Adisucipto. Hari ini ada pekerjaan untuk menilai penerapan Wood Control System di salah satu industri perkayuan terbesar di Gresik. Di ruang tunggu bandara, tampak dari kejauhan sosok yang tidak asing. Dia terlihat sedang asik bercakap-cakap dengan orang yang duduk di sampingnya. Tampak senyum lebar dan keramahan yang dibalut setelan kemeja biru muda yang serasi dengan celana panjang biru tuanya.  Dan tidak ketinggalan kacamata serta sepatu kets hitam dengan sol putih yang identik dengannya.

Tak lama kemudian, terdengarlah panggilan boarding untuk penerbangan tujuan Surabaya. Aku lihat dia mulai berdiri dan beranjak dari tempat duduknya menuju Gate 1. Ternyata kami satu rute penerbangan ke Surabaya. Aku berdiri tepat di depan gate untuk mengucapkan salam dan membuka obrolan, “Apa kesibukannya selepas tidak menjadi pejabat Pak? “Menanam kaliandra merah Mas”, balasnya dengan penuh semangat. Tanaman kaliandra merah terdengar tidak asing bagiku dan akupun memberikan beberapa komentar singkat mengenai tanaman tersebut.

Selepas melewati gate, aku bertanya singkat, “Bapak duduk di kursi mana?”. “1 C Mas, padahal saya lebih suka duduk di belakang” , ungkapnya. “Kalau saya 9 C Pak”, balasku. “Ok, kita masuk yang terakhir saja ke pesawat dan duduk bareng di bangku belakang”, ajaknya. Akupun berpikir, mungkin Bapak ini ingin mengobrol lebih lanjut mengenai kaliandra merah.

Kami pun akhirnya duduk bersama dan obrolan renyah semakin mengalir ramah apalagi kalau bukan mengenai kaliandra merah. Bagi yang belum familiar dengan tanaman ini, kaliandra merah  (Calliandra calothyrsus) merupakan bagian dari familia Leguminosea  dan sub familia Mimosaceae yang berbentuk perdu (semak) dengan ciri batang berkayu dan bertajuk lebat. Tanaman ini banyak ditemukan di Jawa dan dimanfaatkan daunnya sebagai hijauan pakan ternak.

Dan temanku ngobrol pagi itu, Pak Dahlan, begitu aku memanggilnya, saat in sedang banyak menanam kaliandra merah di beberapa lokasi terpencil di Indonesia. Lokasi-lokasi tersebut antara lain, Kabupaten Kepulauan Meranti Riau, Ambalut Kaltim, Tambora NTB, Enggano Bengkulu, Bolang Mangodow Sulawesi, Obi Maluku, Singkep Riau, dan beberapa lokasi lainnya yang total luasnya mencapai ribuan hektar.

Ketertarikannya menanam kaliandra merah didasari semangat untuk mengalirkan listrik di daerah-daerah terpencil dengan berbasis kemandirian masyarakat lokal. Masyarakat diajak bergerak bersama untuk menciptakan sebuah perubahan melalui kegiatan Sosiopreneur Demi Indonesia (SDI) yang digagas oleh Pak Dahlan awal tahun 2015. “Semangat saya sederhana, saya ingin melihat daerah-daerah terpencil di Indonesia bisa menikmati listrik seperti layaknya kita yang ada di Jawa. Mereka tidak perlu menggantungkan sumber bahan baku fosil untuk menghidupkan genset di kampung-kampung. Dan harapannya kegiatan sosial yang dikelola secara entrepreneur mampu menjadi salah satu solusinya”, ungkap mantan Dirut PLN.

Kecintaannya pada dunia energi dan kelistrikan yang ia perlihatkan ketika menjadi orang nomor satu di PLN, kini pun tampak pada usahanya membangun kemandirian energi listrik berbasis biomassa dari tanaman kaliandra merah. Tanaman ini sengaja dipilih oleh Pak Dahlan karena memiliki kandungan energi yang cukup tinggi. Berdasarkan penelitian yang ada, energi yang dihasilkan tanaman kaliandara merah mencapai 4,700 Kkal/kg dan arangnya mampu menghasilkan energi 7,200 Kkal/kg. Energi tersebut tidak kalah dengan hasil pembakaran batu bara yang berkisar 3,700-5,000 Kkal/kg. Lebih lanjut, menurutnya kaliandra merah seluas 200 Ha akan mampu menghasilkan energi listrik sebesar 2 MW.

Sebagai tanaman energi, kaliandra merah sudah bisa dipanen mulai umur satu tahun selepas penanaman. Dan akan tetap bisa dipanen hingga usia 20 tahun tanpa menanamnya kembali.
Selain karena hasil energinya, tanaman kaliandra sengaja dipilih oleh Mantan Mantan Menteri BUMN tersebut karena memiliki sifat yang mudah tumbuh di berbagai tempat baik dataran rendah maupun tinggi. Kemapuan akarnya yang bagus dalam mengikat Nitrogen menjadikannya tanaman dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi meskipun dengan kondisi tanah miskin unsur hara, seperti lahan bekas pertambangan atau lahan marginal lainnya.

Tanaman ini juga tidak memerlukan perlakuan yang khusus dan sulit baik pada saat pembenihan, penanaman dan pemeliharannya. Lebih lanjut, tanaman berbunga merah indah ini juga memiliki  potensi ekonomi yang menjanjikan bagi masyarakat. Bunga kaliandra merah merupakan salah satu sumber nektar favorit lebah madu. Masyarakat yang menanam kaliandra merah juga dapat beternak lebah madu. Hasilnya berupa madu kalindra, biasa kita menyebutnya, harganya sudah cukup tinggi di pasaran. Saat ini harga madu kaliandra bisa mencapai Rp. 120,000 per botolnya nya. Dengan demikian, akan tercipta suatu multiple benefit dari menanam kaliandra merah. Selain tujuan utamanya sebagai kayu energi, keberadaannya akan menyuburkan tanah dan memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat dari manisnya madu kaliandra.

Usaha yang saat ini digeluti Dahlan Iskan juga tidak semua berjalan semulus yang direncanakan. Memang setiap pekerjaan besar, pasti ada tantangan besar yang menghadang. Dia sempat mengalami kegagalan dalam penanaman Kaliandra Merah di Tambora karena beberapa kendala, tetapi hal itu tidak membuatnya patah arang dan berhenti untuk terus mencoba. Gagasan besar akan terwujudnya kemandirian energi bersumber dari kaliandra merah dilakukannya secara mandiri. Ketika saya tanyakan, mengapa tidak mengajak para investor besar untuk bekerjasama? "Sebenarnya sudah banyak para investor yang tertarik bekerjsama untuk menjadikannya bisnis profit yang berskala besar. Tetapi saya ingin ini tetap menjadi sosiopreneur dan saya ingin membuktikan terlebih dahulu bahwa usaha mandiri ini benar-benar berhasil" tegasnya.

Karena aku pernah memiliki sedikit pengalaman terkait kayu energi, aku sampaikan bahwa ada jenis tanaman selain kaliandra merah yang bisa digunakan untuk sumber energi. Tanaman ini banyak tumbuh di kawasan lereng Gunung Merapi dan termasuk salah satu jenis tanaman perintis. Ketika erupsi Gunung Merapi 2010, tanaman jenis ini sempat habis terbakar, tetapi selang beberapa bulan, datangnya musim hujan memberikan berkah pada tanaman ini untuk muncul kembali dan tumbuh dengan lebih subur. Masyarakat di sekitar Gunung Merapi banyak memanfaatkannya sebagai bahan baku arang. Kualitas arangnya cukup baik sehingga banyak pengusahan gudeg di Jogja memanfaaatkannya sebagai bahan bakar. Pak Dahlan terlihat tertarik dengan jenis tanaman ini. Aku sampaikan, “Silahkan kapan Bapak ada waktu ke Jogja lagi saya antar melihat tanamannya dan proses pembuatan arangnya”, ajakku. "Ok Mas Anton, no HP nya berapa ya biar saya simpan", balasnya sambil mengeluarkan Hp dari tas di bawah kursi pesawat.

Tidak lama kemudian terdengan suara pilot yang menginformasikan bahwa pesawat bersiap untuk mendarat. Kamipun turun dari pesawat dan tetap masih asyik mengobrol. Pak Dahlan tampak sangat welcome dan bersikap hangat terhadap semua orang yang ditemuinya. Bahkan ada kejadian unik yang aku amati ketika kami naik bus transit selepas turun dari pesawat menuju terminal. Ada salah satu penumpang yang berdiri di dekat Pak Dahlan. Karena tidak mendapatkan pegangan ketika bus sudah mulai berjalan, dengan ramah Pak Dahlan menawarkan orang tersebut untuk berpegangan pada tangannya. Dan akhirnya mulai dari bus berjalan hingga berhenti di terminal kedatangan, orang tersebut terus menggandeng tangan Pak Dahlan.
Kiriman foto dari Pak Dahlan Iskan

Tidak hanya itu, beberapa kali para penumpang dan petugas bandara juga mengajaknya untuk berfoto bersama. Dan sepanjang perjalanan higga pintu keluar banyak orang yang menyapanya dengan senyum lebar dan rasa hormat. Kamipun bersiap untuk berpisah, sambil berjabat tangan aku sampaikan, "Pak Dahlan, inilah perbedaan antara pejabat dan orang besar. Seorang pejabat mungkin tidak lagi dihormati dan disanjung selepas jabatannya hilang. Akan tetapi orang besar seperti Bapak, akan selamanya dihormati!”

Dan akhirnya kamipun berpisah, tidak lama kemudian HP ku berbunyi, ada SMS masuk dan ternyata dari Pak Dahlan. Berselang sebentar, masuk juga kiriman gambar di WA dari Pak Dahlan berupa foto selfie bersama hasil jepretan kameranya.
SMS dari Pak Dahlan Iskan
 
Itulah Pak Dahlan Iskan, yang tidak pernah berhenti untuk “berulah” demi cita-citanya untuk menghadirkan cahaya penghapus kegelapan.

 Surabaya, 8 Oktober 2015.

Sabtu, 03 Oktober 2015

Membungkus Warisan Melalui Tulisan


Manusia yang hidup saat ini tidak lepas dari warisan pengetahuan, pengalaman dan ide dari generasi manusia sebelumnya. Warisan tersebut salah satunya berbentuk karya tulisan yang dengan detail menggambarkan kehidupan manusia generasi sebelumnya. Ya, karya berbentuk tulisan dinilai cukup langgeng untuk membungkus warisan tersebut. Berbagai tulisan dari penulis ternama lintas generasi berabad-abad lalu masih bisa kita nikmati karena kekuatan penyampaiannya melalui tulisan.

Generasi manusia saat ini pun aku kira harus sebanyak mungkin meninggalkan warisan berbentuk tulisan agar generasi setelah kita bisa banyak belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Tugas menjaga warisan pengalaman dan pengetahuan bukanlah menjadi tugas para penulis ternama semata. Kita pun sebagai orang yang sama sekali tidak berprofesi sebagai penulis hendaknya juga melakukan hal yang sama. Menuliskan setiap lembar pengalaman hidup dan bisa menjadi pelajaran atau setidaknya informasi  yang berguna.

Hanya saja, setiap orang mungkin lebih mudah berbicara daripada menulis. Dan itupun terjadi denganku. Aku lebih suka berbicara dan berdiskusi dengan keluarga maupun teman untuk berbagai topik, mulai dari topic yang seringan kerupuk hingga seberat batu. Tetapi kembali lagi, butuh niatan yang kuat untuk mengubah hasil obrolan tersebut menjadi sebuah tulisan. Apalagi, aku bukan tipe orang yang terbiasa menggoreskan setiap kegundahan hati di buku “diary” seperti sebagian teman-teman lainnya. Alhasil dibutuhkan sebuah niat dan konsistensi untuk mewujudkannya.

Sebuah media “blog” yang aku pilih untuk menampung pengalaman dan ide aku ternyata sudah lama tak tersentuh. Dan untungnya tidak ada “expired”dalam blogspot ketika lama tidak dibuka. Dan hari ini aku menyempatkan, dan sebaikanya memang menyempatkan, buka menunggu waktu luang untuk kembali menulis.

Aku menyempatkan membawa si orange (panggilan laptop kesayanganku) ketika mengantar anak-anak cewekku (Chayara (4 tahun) dan Aisy (2,5 tahun) sekolah di TK dekat rumah. Kebetulan TK nya bersampingan dengan masjid, jadi aku bisa memanfaatkannya untuk menulis tulisan ini. Hari Sabtu dan Minggu adalah “father days” untuk aku dan anak-anak. Selama dua hari dalam seminggu, anak-anak berada dalam kekuasaanku; mulai dari urusan mandi, nyebokin, memasak sarapan hingga mengantar sekolah, ngajakin main, ngelonin bobok siang sudah menjadi tugasku. Aku tidak ingin kehilangan momen berharga, melihat tumbuh kembang anakku karena terlalu sibuk di luar rumah. Dan anakku pun terlihat begitu senang dan menikmati “father days” kami.

Oh… terdengar dari dalam ruang kelas anakku lantunan doa menjelang pulang dan akhirnya aku cukupkan sementara tulisan ini. Dan semoga bisa berlanjut secara konsisten dengan tulisan-tulisan selanjutnya. See you all…. J

 

Senin, 24 Februari 2014

Journey to UK (United Kingdom) part #4 : Southampton-Manchester-Doha-Jakarta-Yogyakarta

From left: Xiao, Abilasha  and Anton.
Dear sobat semua...

Menyambung ceritaku sebelumnya di Journey to UK #part 3, kali ini aku akan cerita mengenai kegiatanku di Southampton dan perjalanan pulangku ke Indonesia.

Senin pagi, 13 January 2014, agenda meeting dan training bersama teman UK, India dan China dimulai. Lokasi trainingnya di Southampton Park, hanya sekitar 300 m dari hotel kami. Setelah breakfest, aku, Xiao, dan Abilasha berangkat bersama. Suasana sepanjang jalan masih cukup sepi, rumput-rumput masih kedinginan membeku oleh hawa dingin semalam. Jalanan basah dengan es yang mulai mencair selepas matahari terbit menampakkan dirinya. Sesampainya di lokasi kami disambut dengan senyum sumringah kawan-kawan di UK. Aku sudah bertemu beberapa dengan mereka ketika visit ke Indonesia. Dan kamipun memulai discuss terkait Due Diligence System untuk produk perkayuan yang masuk ke pasar Eropa. Saat istirahat tiba, aku minta izin untuk shalat dzuhur. Alhamdulillah, meskipun tidak mempunyai ruang khusus beribadah, ada ruang meeting yang cukup representatif aku gunakan shalat. Selepas shalat, rekan-rekan mengajaku untuk berkeliling di Southampton Park. Mereka mempunyai kebiasaan unik, ketika istirahat akan berjalan keluar ruangan untuk menghirup udara segar bersama-sama. Kemudian kembali lagi ke kantor untuk makan siang. Laura (34) yang merupakan PIC untuk kegiatan ini begitu ramah dan membantu kami untuk menemukan makan siang yang cocok, maklum, lidahku agak kurang cocok dengan makanan baru yang hambar, heehe.

Selepas makan siang, kamipun melanjutkan diskusi hingga jam menunjukan pukul 5 malam. Karena bulan Januari sedang musim dingin, matahari tenggelam lebih cepat, jam 4 sore. Pulang jam 5 sore sudah terasa malam sekali. Aku, Abilasha dan Xiao langsung kembali ke hotel untuk beristirahat. Malam terasa panjang sekali, ingin segera beristirahat agar besoknya bisa fit buat nglanjutin diskusi.
Matahari terbit mengganti hari, udara pagi ini terasa lebih hangat dari sebelumnya. Tubuhku sepertinya sudah mulai bisa beradaptasi dengan suhu winter ini. Hari ini datang lebih awal, kebetulan dua rekan kami dari Perancis ingin gabung untuk diskusi. Fabien dan Florie sengaja drove  dari Perancis menempuh 5 jam untuk sampai di Southampton. Diskusi menjadi lebih menarik dan banyak hal yang bisa dishare.


Dinner session


Karena hari ini kami bisa berkumpul semua, Laura mendesain untuk kita dinner bareng di Manor Restaurant dekat hotel. Canda, tawa, share pengalaman unik, cerita keluarga, kesemuanya larut dalam suasana kekeluargaan. Ya, menyenangkan bisa duduk dan bertemu dengan mereka semua.
Diskusi berlanjut ke hari berikutnya, dan semua peserta tetap semangat dan banyak hal yang kami sepakati dan menjadi action plan  kedepan. Selepas seharian diskusi, temanku dari India, Abilasha ingin jalan-jalan ke pusat kota Southampton. Dia mengajak kami ikut serta. Sarah yang baik hati bersedia menemani kami berkunjung jantung kota Southampton. Tujuan pertama kami ke West Quay, sebuah pusat perbelanjaan. Sambil mengantar Abilasha cari pakaian, Sarah menemaniku mencari oleh-oleh buat istri dan 2 bidadari kecilku. Setelah berkeliling, dapatlah baju hangat untuk istriku tercinta dan beberapa pasang baju untuk Chayra dan Aisy. Yeea, mereka pasti menyukainya. Setelah puas jalan-jalan, kamipun beranjak pulang ke hotel. Besok pagi aku harus siap-siap terbang ke Manchester kembali.


Penerbangan dari Southampton ke Macnhester

Penerbangan ke Manchester pukul 06.00 pagi. Semua barang telah aku packing kembali, taxi pun datang jam 5.15. Setelah perjalanan 10 menit, sampailah aku ke Bandara Southampton. Proses check-in berlangsung cukup lancar, meskipun sempat terkendala saat di x-ray screening. Aku merasa agak kurang adil juga, tapi mungkin untuk safety reasoning. Selain tas ku yang di x-ray, ternyat aku diminta mengeluarkan seluruh isi tasku. Nggak tahu kenapa, apa karena pasport ku Indonesia? Entahlah. Aku melihat orang lain memasukan tas dan cukup tersenyum dengan petugas sudah bisa melewati pemerikasaan. Sementara aku diminta membuka tasku. Ada laptop di dalamnya juga diminta buka dan discan berkali-kali. Selain itu juga aga berlebihan dalam body checking. Pengecekan tubuh tidak hanya dengan metal detector tetapi hingga detail pemeriksaan with touch. Kaki, tangan, baju dan celana menjadi obyek pemeriksaan, ya, untuk kali ini aku terima. It’s ok, mungkin karena ada kekhawatiran tertentu dengan orang Asia, meskipun berlebihan.
Setelah lolos dari proses pemeriksaan, aku pun segera masuk ruang tunggu dan tak lama panggilan untuk naik pesawat terdengar. Khusus perjalanan pulang dari Southampton ke Manchester aku naik Flybe, sebuah pesawat kecil dengan kapasitas kurang dari 100 orang. Terlihat orang-orang dengan stelan necis ingin berangkat kerja ke Manchester.


Piccadily Garden

Manchester City centre

Setelah satu jam penerbangan, pesawat landing  di Manchester Airport. Waktu menunjukan pukul 07.00 pagi, sementara pesawat Qatar Airways ke Indonesia masih berangkat pukul 8.45. Aku masih cukup punya waktu untuk menjelajahi kota Manchester. Aku putuskan untuk berkeliling naik bus ke pusat kota Manchester. Perjalanan cukup menyenangkan bagaimana suasana pagi hari di sepanjang jalan kota Manchester. Dengan ongkos bis 4 £ sudah bisa berkeliling kota. Bus membawaku ke jantung kota Manchester, melewati Manchester University yang merupakan universitas ternama di Inggris. Akupun turun di Piccadily Garden. Udara pagi itu terasa dingin sekali, aku kenakan sarung tangan lengkap dengan syal. Suasanan Piccadily Garden cukup ramai, orang-orang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Piccadily Garden merupakan taman kota dengan ikon mirip London Eye versi mini. Disana kita juga bisa bermain dengan burung-burung merpati yang terbang bebas. Puas bermain dengan burung merpati, akupun berjalan menuju Piccadilly Station untuk menuju toko souvenir klub kebanggaanku, Manchester United. Aku membali topi dan gantungan kunci untuk kenang-kenangan selama berada di kota yang identik dengan sepak bolanya.


Markas The Citizens


Kemegahan  Etihad Stadium


Sebelum menuju bandara Manchester, aku mampir terlebih dahulu ke markas The Citizens (Manchester City). Lokasinya tidak terlalu jauh dari Piccadilly Station, hanya sekitar 5 menit naik taksi. Stadionnya bagus dan tampak mewah, dan tentusaja kesempatan berharga bagiku untuk mengambil gambar di depan stadion klub kebanggaannya Robb. Aku sengaja menyambangi stadion ini sebagai rasa hormatku kepada Robb, si pecinta The Citizens, heehe.

Suasana Bandara Manchester
Dengan taksi yang sama akupun beranjak menuju bandara. Setelah selesai proses check-in akupun melihat jadwal penerbangan, ternyata pesawatku delay sekitar 30 menit. Waktu yang ada aku gunakan untuk makan siang. Nah, makan siang terakhir di Inggris akhirnya menemukan nasi, meskipun rasanya tak seenak di Jogja. Alhamdulillah, tepat setelah selesai makan panggilan untuk naik pesawat pun terdengar. Aku bergegas menuju pesawat untuk terbang ke Qatar dan selanjutnya ke Jakarta. Puji syukur kepada Allah yang telah memberikan kemudahan dan keselamatan dalam perjalanan ini. Akupun sampai di rumah dengan selamat, dan tentunya dalam pelukan 3 bidadariku, istri dan 2 puteriku tercinta. 

Bandara Qatar